HSBC: Penurunan Suku Bunga Global Tak Langsung Tekan Bank Dalam Negeri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bayang-bayang penurunan suku bunga The Fed memunculkan kekhawatiran tersendiri bagi pasar. Namun, sebagai salah satu tulang punggung pasar keuangan Indonesia, industri perbankan dinilai tak bakal merasakan dampak signifikan dari penyesuaian suku bunga global. 

Pada pertemuan Desember 2025 lalu, pejabat The Fed memperkirakan pemangkasan suku bunga sebanyak satu kali pada tahun 2026 ini. Untuk diketahui, sepanjang 2025 The Fed telah memangkas suku bunga sebanyak 75 basis poin hingga kini berada di rentang 3,5% – 3,75%.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research Herald van der Linde menilai, penurunan suku bunga lebih lanjut belum akan terjadi dalam waktu dekat. Namun, jika skenario tersebut terwujud pun, ia bilang kondisi perbankan Indonesia masih relatif lebih solid dibandingkan negara lain.


“Jika suku bunga global turun, biasanya itu berdampak negatif bagi bank. Namun di Indonesia situasinya berbeda karena perbankan memiliki daya tawar penetapan harga yang lebih kuat dibandingkan banyak negara lain,” ujar Herald dalam media briefing, Senin (12/1/2026).

Baca Juga: Kredit Perbankan Lesu: Suku Bunga Rendah BI Tak Mampu Dongkrak Pinjaman

Herald menjelaskan, perbankan di Indonesia memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan suku bunga simpanan seiring penurunan suku bunga acuan. Dengan demikian, penurunan suku bunga tak otomatis menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

“Ketika suku bunga turun, bank juga bisa menurunkan suku bunga deposito. Karena itu, penurunan suku bunga sering kali tidak langsung diterjemahkan menjadi tekanan margin di Indonesia,” jelasnya.

Meski demikian, Herald mengakui terdapat kemungkinan margin perbankan tetap berada di bawah tekanan. Dalam kondisi tersebut, ia melihat investor bisa saja mulai fokus pada sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga.

Salah satu sektor yang berpeluang diuntungkan adalah properti. Penurunan suku bunga dapat menurunkan biaya pendanaan dan mendorong permintaan, sehingga menopang kinerja emiten properti.

Baca Juga: BTN: Penjualan SBN Tetap Atraktif di Tengah Tren Penurunan Suku Bunga BI

“Dalam banyak pasar, sektor properti cukup besar dan biasanya diuntungkan ketika suku bunga turun. Di Indonesia memang porsinya lebih kecil, tetapi tetap bisa mendapat manfaat,” kata Herald.

Selain itu, sektor konsumer juga dinilai berpotensi mencatat kinerja lebih baik seiring menurunnya suku bunga dan membaiknya daya beli masyarakat.

“Sektor konsumer juga bisa diuntungkan dari kondisi suku bunga yang lebih rendah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Herald menambahkan, perusahaan-perusahaan dengan beban bunga yang tinggi dalam struktur biayanya juga berpeluang merasakan dampak positif lebih besar dari penurunan suku bunga.

“Emiten yang memiliki porsi biaya bunga cukup besar dalam total biaya akan mendapatkan manfaat lebih besar ketika suku bunga turun,” pungkasnya.

Baca Juga: Kredit Melambat, Bank Besar Genjot Pendapatan Non Bunga untuk Jaga Laba

Selanjutnya: Prospek Prodia (PRDA) dan Diagnos (DGNS) 2026 Tetap Positif, Cek Rekomendasinya

Menarik Dibaca: Paket 5 Pizza Favorit + 5 Minuman Hanya Rp 100.000, Siap-Siap Serbu Promo PHD

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News