HSBC Proyeksikan Rupiah Akan Ada di Kisaran Rp 18.000 per Dolar AS hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. HSBC memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan bergerak stabil di kisaran Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga akhir tahun 2026, didukung oleh langkah cepat Bank Indonesia (BI) dalam mengendalikan volatilitas pasar keuangan domestik.

Tekanan pada nilai tukar rupiah belakangan ini terutama didorong oleh keperkasaan dolar AS seiring berlanjutnya siklus kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS (The Fed).

Namun, pelemahan tersebut dinilai lebih mencerminkan dinamika global dolar AS ketimbang kerapuhan fundamental ekonomi domestik Indonesia.


Baca Juga: Rupiah Tertekan hingga Tembus Rp 18.000, Cek Proyeksi Rabu (30/9)

Langkah Bank Indonesia (BI) yang merespons cepat dengan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% dinilai efektif menahan gejolak kurs yang lebih dalam.

BI diproyeksikan hanya perlu menaikkan suku bunga acuan sebanyak satu kali lagi sebelum mengakhiri siklus pengetatan moneter, dengan dukungan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk melakukan penyelarasan (fine tuning) likuiditas.

Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann menyampaikan bahwa stabilitas mata uang domestik mulai terbangun setelah otoritas moneter mengambil langkah tegas.

"Ini lebih merupakan cerminan penguatan dolar daripada kelemahan rupiah, jadi jika Anda menanyakan target, sekitar 18.000, misalnya, akan menjadi target yang wajar," kata Frederic dalam acara Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Selasa (29/9/2026).

Di tengah patokan nilai tukar tersebut, ketahanan makroekonomi Indonesia tetap solid.

Baca Juga: Pasar Keuangan Indonesia Tangguh di Tengah Tekanan Suku Bunga Global

Akselerasi kredit perbankan untuk sektor investasi dan modal kerja terus bergerak positif, mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4% pada 2026 dan 5,2% pada 2027.

Tingginya real interest rate serta defisit anggaran yang disiplin di bawah 3% dari PDB turut memicu kembalinya arus masuk modal asing (capital inflows).

Stabilitas kisaran kurs di rentang Rp 18.000 per dolar AS juga memberikan sinyal positif bagi bursa saham domestik.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Investment Research Herald van der Linde menuturkan bahwa kepastian arah kurs dan terkonfirmasinya puncak yield obligasi akan menjadi pemicu masuknya kembali modal internasional.

"Walaupun memunculkan hambatan jangka pendek, stabilitas rupiah dan kembalinya aliran modal mulai membuat investor kembali melirik pasar ini," ujar Herald.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Ungkap Kriteria Investor yang Dicari untuk Jaga Harga Saham BBCA

Memasuki tahun depan, tekanan dolar AS diperkirakan mereda sehingga memberi ruang bagi rupiah untuk berbalik menguat.

Kondisi ini didukung oleh potensi penurunan harga minyak dunia serta melandainya inflasi domestik ke kisaran 2,7% pada 2027.

Dengan fondasi makroekonomi yang terjaga kuat, fokus penguatan ketahanan ekonomi nasional kini diarahkan pada perbaikan reformasi struktural tingkat mikro, seperti penyediaan infrastruktur, regulasi, dan kemudahan aksesibilitas investasi pasar modal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News