Banyak sisi menarik dari Huang Nubo. Di luar bisnis realestat yang sukses, Huang juga dikenal sebagai sosok yang "perasa". Namun ada sisi lain yang tak kalah uniknya, Huang punya hobi yang mampu memacu adrenalin. Dia sangat hobi menaklukkan tingginya gunung di berbagai belahan dunia. Pesan filosofis yang ditangkap Huang dari gunung-gunung itu: dia tetap bersemangat menaklukkan tingginya batasan dunia bisnis namun tetap dengan cara yang rendah hati. Tak hanya sastra dan puisi, Huang Nubo juga menyukai tantangan terutama mendaki gunung. Sejumlah gunung tertinggi dunia telah berhasil didaki pemimpin Zhongkun Beijing Investment Group ini. Dia makin suka menaklukkan gunung setelah berhasil mencapai puncak Gunung Kilimanjaro di Kenya, Afrika.
Puncak gunung setinggi 5.895 meter di atas permukaan laut ditaklukkan Huang pada 16 Februari 2005. Setelah Kilimanjaro, pada 2007, Huang juga menaklukkan puncak Muztagh Ata (7.546 m) dan pada 2008 berhasil berada puncak Gunung Cho Oyu (8.201 m). Sukses mendaki Cho Oyu bermakna khusus bagi Huang karena gunung ini tertinggi ke enam di dunia. Namun keinginannya untuk menaklukkan Mount Everest (8.848 m) gagal setelah dia menyerah pada ketinggian 8.700 m pada 2009. Di tahun yang sama, Huang kembali melakukan pendakian gunung tertinggi di Amerika Utara, Gunung McKinley (6.194 m). Dia juga menaklukkan gunung tertinggi Eropa, Gunung Elbrus (5.642 m), gunung tertinggi di Amerika Selatan, Gunung Aconcagua (6.964 m) pada Februari 2010. Untuk ke dua kalinya, Huang mendaki Gunung Kilimanjaro dan Gunung Everest pada 2010. Pada tahun yang sama, dia juga telah menaklukkan Puncak Jaya (5.030 m) di Indonesia yang merupakan puncak tertinggi di kawasan Oseania. Tahun 2011, Huang juga telah melaksanakan ekspedisi ke Kutub Utara. Dalam perjalanan ke Kutub Utara, dia menyumbangkan lebih dari 3 miliar yuan untuk masyarakat setempat. Menurut Huang, dengan mendaki gunung, dia memiliki semangat untuk terus menaklukkan tingginya batasan dunia bisnis. "Ini juga membuat saya rendah hati," katanya. Semangat bisnis Huang memang besar, setelah menguasai bisnis
real estate China, dia mulai merambah Islandia. Dia memang sudah lama mengincar Islandia sebagai tempat investasi. Mengalokasikan dana hingga US$ 200 juta, Huang berencana membuat resort dengan fasilitas lapangan golf dan kegiatan
outdoor di tanah seluas 300 km²
. Berlatar belakang pemandangan alam dan lingkungan yang indah, ia yakin resort itu mampu menarik minat wisatawan dunia. Selain motif bisnis, Huang memiliki hubungan pribadi dengan Islandia karena seorang karibnya di Universitas Peking adalah orang Islandia. Oleh karena itu, dia mendirikan sebuah program pertukaran bagi penyair Islandia dan China. Dia bahkan menghibahkan biaya operasional selama sepuluh tahun sebesar US$ 1 juta untuk program tersebut. Pada Oktober 2011 nanti, untuk pertama kalinya akan diadakan pertemuan sastra puisi China-Islandia. Tak hanya diisi sastrawan saja, program itu juga menghadirkan pejabat pemerintahan Islandia dan Duta Besar Islandia di China. Langkah ini juga sebagai bentuk diplomasi untuk menyukseskan proyek pembangunan resort. Walaupun begitu, kekhawatiran masyarakat Islandia akan proyeknya tetap besar. Maklum, warga Islandia memang punya pengalaman buruk dengan investasi asing. Negara ini pernah trauma dengan perusahaan energi asal Kanada, Magma yang sekarang berganti menjadi Alterra.
Perusahaan ini telah membuat perusahaan boneka di Swedia untuk akses investasi ke Islandia. Dengan anak usahanya itu, Magma mencoba menguasai bisnis energi panas bumi, termasuk di wilayah Islandia, tanpa memperhatikan lingkungan. Selain itu, masyarakat Islandia juga mencurigai bahwa Beijing Zhongdian Investment Corp itu nantinya hanya akan meraup keuntungan saja tanpa bisa meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat setempat. (Selesai)