Huawei Bidik Implementasi AI di UMKM, Efisiensi Operasional Jadi Peluang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Huawei mendorong pelaku usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), untuk meningkatkan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) guna memperkuat produktivitas dan daya saing bisnis. 

Tantangan berikutnya bukan sekadar menguji teknologi AI, melainkan mengintegrasikannya ke dalam operasional perusahaan secara luas dan terukur.

Chief Technology Officer Financial Services Industry Huawei APAC Enterprise Business Ethan Wang mengatakan, pemanfaatan AI di dunia usaha mulai memasuki fase peningkatan skala. 


"Perusahaan perlu mengarahkan implementasi teknologi tersebut pada hasil bisnis yang terukur, mulai dari peningkatan pendapatan hingga efisiensi biaya operasional," ujar Ethan dalam diskusi forum IKF 2026, di Jakarta, Rabu (13/10/2026).

Baca Juga: Indosat-Huawei Kolaborasi, Luncurkan Fitur Panggilan dan Cloud Berbasis AI

Dalam paparannya, Ethan menyoroti besarnya peluang adopsi AI di Indonesia. UMKM berkontribusi sekitar 61,1% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, sementara nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$ 100 miliar pada 2025.

Namun, penerapan AI dalam skala besar masih menjadi tantangan. Mengacu pada data yang dipaparkan Ethan, sebanyak 88% organisasi secara global telah menggunakan AI setidaknya pada satu fungsi bisnis. Meski demikian, hanya sekitar 7% yang telah menerapkan AI secara penuh di seluruh organisasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keunggulan kompetitif tidak lagi cukup diperoleh dari eksperimen menggunakan berbagai perangkat AI. Perusahaan perlu mengembangkan penerapan teknologi yang terhubung dengan proses bisnis utama dan memberikan dampak nyata terhadap kinerja.

Ethan memetakan lima manfaat utama AI bagi perusahaan, yakni meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, mendorong konversi penjualan, menekan biaya layanan, menciptakan sumber pendapatan baru, serta memperkuat produktivitas tim.

"Pada rantai bisnis UMKM, misalnya, AI dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan permintaan dan kebutuhan stok, memberikan rekomendasi produk kepada pelanggan, mengotomatisasi layanan konsumen, hingga menganalisis arus kas," lanjutnya.

Baca Juga: Persaingan Wearable Semakin Ketat, Huawei Memperkuat Bisnis di Indonesia

Pemanfaatan tersebut dapat diukur melalui indikator seperti akurasi perkiraan permintaan, tingkat pembelian berulang, biaya per pesanan, waktu penyelesaian layanan, serta efisiensi penagihan.

Untuk bisnis ritel skala kecil, integrasi percakapan pelanggan, inventori, pembayaran, dan umpan balik konsumen dapat menjadi langkah awal penerapan AI. 

Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak harus langsung membangun sistem yang kompleks, tetapi dapat memulai dari kebutuhan operasional yang paling relevan.

Meski menawarkan peluang efisiensi, perluasan AI di perusahaan menghadirkan sejumlah tantangan. Ethan menyoroti empat aspek utama, yakni kedaulatan AI (AI sovereignty), keamanan AI, skalabilitas, dan keberlanjutan biaya operasional.

Kedaulatan AI berkaitan dengan kemampuan perusahaan mengendalikan data dan sistem kecerdasan buatan yang digunakan. Sementara itu, aspek keamanan mencakup pengendalian akses dan tindakan agen AI agar tetap berada dalam batas kewenangan yang ditetapkan perusahaan.

Dari sisi skalabilitas, perusahaan perlu memastikan aplikasi AI yang berhasil dalam tahap demonstrasi juga dapat bekerja secara andal ketika digunakan dalam proses bisnis sesungguhnya. Perubahan model AI juga perlu diantisipasi agar perusahaan dapat memperbarui teknologi tanpa harus membangun ulang seluruh sistem.

Adapun dari sisi biaya, penggunaan AI yang meningkat dapat mendorong kenaikan konsumsi token, yakni unit pemrosesan teks atau data oleh model AI. Karena itu, perusahaan perlu mengelola biaya komputasi dan memilih model sesuai kebutuhan agar manfaat produktivitas tidak tergerus oleh biaya operasional teknologi.

Ethan turut menyoroti perkembangan model AI terbuka yang dinilai dapat memberikan alternatif dari model tertutup. Dalam paparannya, ia mengacu pada tren ekosistem AI China yang menggabungkan model terbuka, rekayasa sistem, efisiensi komputasi, dan komersialisasi dalam skala besar.

Bagi perusahaan, pendekatan tersebut menekankan bahwa keberhasilan penerapan AI tidak hanya ditentukan oleh kemampuan model, tetapi juga oleh infrastruktur, pengelolaan data, keamanan, dan integrasi dengan proses bisnis.

Baca Juga: Era Kecerdasan Buatan, Huawei Perkuat Kolaborasi dan Ekosistem Bisnis

Untuk memperluas adopsi AI, Ethan menyarankan perusahaan memulai dari satu kasus penggunaan yang memiliki nilai bisnis jelas, sebelum memperluas implementasi ke proses lain.

Dalam kerangka kerja 90 hari yang dipaparkan, tahap awal selama 30 hari digunakan untuk memilih kasus penggunaan dan menetapkan tolok ukur kinerja. Pada 30 hari berikutnya, perusahaan menjalankan proyek percontohan dengan kelompok pengguna terbatas, tetap melibatkan pengawasan manusia, serta mencatat penghematan, kesalahan, dan tingkat adopsi.

Memasuki hari ke-61 hingga ke-90, perusahaan mengevaluasi manfaat dibandingkan total biaya, menetapkan kontrol operasional, dan memutuskan apakah penerapan akan diperluas, diperbaiki, atau dihentikan.

Keputusan tersebut perlu didasarkan pada dampak yang terukur, tingkat akurasi yang dapat diterima, keamanan pengelolaan data, penerimaan karyawan, serta kelayakan ekonomi.

Dalam jangka panjang, Huawei melihat perkembangan AI bergerak dari digitalisasi proses menuju sistem berbasis agen AI (agentic AI) yang dapat menjalankan rangkaian tugas secara lebih mandiri berdasarkan tujuan tertentu. 

Namun, penerapannya tetap membutuhkan fondasi data, infrastruktur komputasi, tata kelola, dan pengawasan yang memadai.

Bagi perusahaan Indonesia, pendekatan bertahap tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengubah eksperimen AI menjadi investasi produktivitas yang terukur, sekaligus menjaga agar biaya, keamanan, dan manfaat bisnis tetap terkendali.

Baca Juga: Huawei Petakan Kebutuhan 36 Juta Talenta Digital Baru hingga Tahun 2030

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News