Hubungan dengan AS makin berkobar, kini China mulai merayu Vietnam



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Ketika ketegangan berkobar dengan Washington di Laut China Selatan, Beijing tengah mencari upaya untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara tetangganya di Asia. Salah satunya adalah Vietnam. Beijing mencari hubungan ekonomi yang lebih dekat dan menawarkan bantuan  untuk memulihkan kembali ekonomi yang terpuruk akibat virus corona.

Melansir South China Morning Post, Menteri Luar Negeri China Wang Yi berusaha menenangkan Hanoi yang semakin menunjukkan sikap bermusuhan pada hari Selasa dalam sebuah pertemuan virtual dengan koleganya dari Vietnam Pham Binh Minh. Peristiwa itu terjadi sehari setelah wakil Wang, Luo Zhaohui, mencoba meyakinkan tetangga China bahwa mereka menginginkan perdamaian dan stabilitas regional.

Baca Juga: Menlu AS: Amerika ingin bangun koalisi untuk melawan tingkah China yang 'memalukan'


Beijing juga mengatakan pihaknya sudah melakukan pembicaraan pada Senin untuk pakta perdagangan bebas dengan Kamboja, sekutu terdekatnya dalam 10 anggota ASEAN dan penyeimbang dengan Vietnam. Vietnam dikenal sebagai penantang regional paling vokal dari klaim teritorial Beijing yang luas di Laut China Selatan. 

Namun para analis melihat, sebagian besar pakta ini hanyalah simbolis mengingat volume perdagangan mereka yang terbatas. Ini menunjukkan strategi Beijing dalam merayu negara-negara Asia untuk menjauh dari AS dengan insentif ekonomi.

Baca Juga: Libatkan pembom, China makin sering latihan militer di Laut China Selatan

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan pada pekan lalu bahwa klaim Beijing atas hampir 90% Laut China Selatan adalah "benar-benar melanggar hukum", sebuah langkah yang telah meningkatkan ketegangan di antara negara-negara adidaya.

"Menghadapi pandemi Covid-19, Vietnam dan China telah memperkuat persahabatan kami untuk saling mendukung," kata Wang selama pertemuan dengan Pham, mengutip panggilan telepon antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Vietnam Nguyen Phu Trong enam bulan lalu.

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie