Humpuss kembangkan layar setelah terlilit utang



Siapa yang tak kenal dengan Hutomo Mandala Putra, yang lebih akrab disapa Tommy Soeharto? Kiprah bisnis putra bungsu mantan presiden Soeharto ini sudah tak diragukan lagi. Tak kurang dari 20 perusahaan besar yang bergerak di berbagai sektor telah dikuasainya. 

Salah satu perusahaan milik Tommy yang sukses bertahan dan melewati krisis ekonomi Indonesia hingga saat ini adalah Grup Humpuss. Sebagai holding company, saat ini Grup Humpuss membawahi lebih dari sembilan anak usaha. 

Ada delapan sektor bisnis yang dijalankan. Di antaranya ada bisnis pelayaran, persewaan transportasi udara, pertambangan, serta penjualan dan distribusi minyak, Grup Humpuss juga menekuni sektor agrikultur, petrokimia, properti, dan aset sekaligus portofolio manajemen.


Tak seperti banyak perusahaan di Indonesia yang bisnisnya gonjang-ganjing gara-gara krisis ekonomi, Grup Humpuss justru nyaris tidak merasakan dampak krisis ini. “Justru di era 90-an ini grup usaha kami berkembang pesat dan tengah berada di masa kejayaan,” kata Theo Lekatompesy, Direktur Utama PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk, salah satu anak usaha Grup Humpuss, kepada KONTAN.

Di saat grup perusahaan lain menutup beberapa anak perusahaan demi efisiensi, Grup Humpuss malah menambah dua anak perusahaan di awal tahun 2000.Namun, tak selamanya dewi fortuna berpihak pada perusahaan milik Tommy Soeharto ini. 

Nakhoda bisnis Grup Humpuss akhirnya ikut goyah gara-gara krisis finansial global di 2008. Faktor terlalu percaya diri dan kurang waspada akhirnya menjerumuskan Grup Humpuss ke dalam lilitan utang piutang. 

Theo berkisah, masalah utama yang menimpa Humpuss bermula sekitar tahun 2006–2007 akibat keputusan manajemen yang keliru menyewa kapal. Saat itu, manajemen Humpuss Intermoda Transportasi memprediksi kebutuhan kapal pengangkutan besar akan meningkat. 

Editor: Rizki Caturini