Hyundai Tetap Genjot Penjualan Mobil Listrik Meski Insentif Belum Jelas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) menyatakan tetap optimistis terhadap prospek pasar kendaraan listrik di Indonesia meski pemerintah belum memberikan kepastian mengenai kelanjutan insentif pembelian mobil listrik.

Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) Fransiscus Soerjopranoto mengatakan, insentif memang menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik.

Namun, keputusan konsumen untuk membeli mobil listrik tidak semata ditentukan oleh insentif harga.


Menurutnya, konsumen juga mempertimbangkan nilai produk, kesiapan infrastruktur pengisian daya, layanan purna jual, hingga kebutuhan mobilitas yang terus berkembang.

Baca Juga: Hyundai Motors Indonesia Luncurkan New Creta Alpha, Harga Rp 455 Juta OTR Jakarta

"Insentif memang dapat menjadi salah satu faktor pendukung percepatan adopsi EV, namun keputusan pembelian konsumen juga dipengaruhi oleh value produk, kesiapan infrastruktur, layanan purna jual, dan kebutuhan mobilitas," ujar Fransiscus kepada Kontan, Kamis (25/6/2026).

Di tengah belum adanya kepastian insentif, Hyundai mengaku akan tetap menjalankan strategi pengembangan pasar kendaraan listrik melalui penguatan portofolio produk dan peningkatan pengalaman pelanggan.

Salah satu strategi yang dijalankan adalah menghadirkan program Hyundai Subscribe. Melalui program tersebut, konsumen dapat menggunakan kendaraan listrik Hyundai, seperti IONIQ 5, IONIQ 5 N, KONA Electric, hingga KONA N Line, dengan masa berlangganan minimal satu tahun sebelum memutuskan membeli kendaraan.

Selain itu, Hyundai juga akan terus berkolaborasi dalam pengembangan infrastruktur kendaraan listrik serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan kendaraan listrik.

Baca Juga: Harga BBM Nonsubsidi Melonjak, Penjualan Mobil Listrik Berpeluang Terdongkrak

Fransiscus menilai, kendaraan listrik masih memiliki daya tarik meski tanpa insentif pemerintah. Pasalnya, konsumen kini semakin mempertimbangkan total biaya kepemilikan (total cost of ownership) dibanding hanya harga beli awal.

Menurutnya, efisiensi biaya operasional, teknologi yang ditawarkan, kenyamanan berkendara, serta biaya perawatan yang lebih rendah menjadi nilai tambah kendaraan listrik.

"Dengan value yang kompetitif dan ekosistem yang terus berkembang, Hyundai percaya pasar EV Indonesia tetap memiliki potensi tumbuh secara sehat," katanya.

Sebelumnya, pemerintah belum memasukkan insentif pembelian mobil dan motor listrik ke dalam paket stimulus ekonomi semester II-2026. Padahal, kebijakan tersebut sempat direncanakan mulai berlaku pada Juni 2026.

Baca Juga: Soal Kelanjutan Insentif untuk Mobil dan Motor Listrik, Ini Jawaban Menperin

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Mei lalu menyatakan insentif kendaraan listrik ditunda. Hingga menjelang Juli 2026, pemerintah juga belum mengumumkan kelanjutan kebijakan tersebut.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah masih mengkaji skema insentif kendaraan listrik sebelum diputuskan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News