IBM Dorong Perusahaan Asia Pasifik Bertansformasi Berbasis AI pada 2030



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. IBM perusahaan penyedia solusi hybrid cloud dan artificial intelligence (AI), fokus mengejar berbagai perusahaan di Asia Pasifik untuk bisa bertransformasi menjadi perusahaan berbasis AI pada 2030. 

Di 2030, organisasi yang akan memimpin adalah mereka yang menerapkan AI di seluruh aspek bisnis untuk mentransformasi operasional, mempercepat inovasi, dan menciptakan keunggulan kompetitif jangka panjang. 

“Asia Pasifik memiliki posisi yang unik untuk menjadi pemimpin dalam kompetisi menuju perusahaan berbasis AI,” ujar Hans Dekkers, General Manager IBM APAC, di IBM THINK on Tour Singapore, Singapura, Senin (21/7). 


Keberhasilan akan bergantung pada tiga hal utama, yaitu AI yang tepercaya, data yang siap digunakan untuk AI, serta fondasi digital yang terbuka, hybrid, berdaulat, dan mampu mendukung penerapan dalam skala besar.

Hans mengatakan, organisasi yang mampu membangun fondasi ini dengan baik akan melampaui tahap eksperimen dan menerapkan AI dengan lebih percaya diri, sehingga dapat meningkatkan kecepatan, kelincahan, dan ketahanan yang dibutuhkan untuk memimpin dalam ekonomi berbasis AI.

Dalam upaya mengejar target tersebut, Senin (21/7), IBM menggelar konferensi tahunannya, IBM THINK on Tour Singapore.

Baca Juga: IBM: AI Berpotensi Dorong 50% Nilai Bisnis Digital Baru di Asia Pasifik pada 2030

Di koneferensi tersebut, para peserta akan dikenalkan oleh berbagai solusi teknologi yang IBM kembangkan dengan fokus pada teknologi AI. Seperti, inovasi terbaru di bidang data, AI dan komputasi kuantum.

Inovasi-inovasi ini membantu organisasi menerapkan AI dalam skala besar, mempercepat inovasi, dan menghasilkan dampak bisnis yang terukur, seperti yang telah ditunjukkan oleh para klien IBM dari berbagai industri di kawasan Asia Pasifik. 

Josephine Teo, Menteri Pengembangan Digital dan Informasi Republik Singapura, menyebutkan, di tengah pesatnya perkembangan ekonomi berbasis AI, blueprint atawa peta jalan IBM ini menjawab tantangan perusahaan maupun institusi dalam mengimplementasikan AI. 

Hans menjelaskan, salah satu tantangan kawasan ini adalah perbedaan regulasi, persyaratan kedaulatan data, hingga sistem hybrid yang kompleks dalam skala besar. 

Selain itu, sebanyak 68% eksekutif menilai lokasi penyimpanan dan kedaulatan data sebagai tantangan. Oleh sebab itu, organisasi jadi butuh untuk membangun AI dengan aspek kepercayaan, kontrol, keamanan, dan kepatuhan yang telah diterapkan sejak awal. 

"Dengan membangun dan mengadopsi AI yang dirancang sejak awal dan sesuai kebutuhan kedaulatan suatu kawasan, maka tata kelola dan penerapan AI bisa terpercaya secara luas," jelas Hans. 

Baca Juga: IBM ASEAN Blak-Blakan Soal Tantangan Bisnis AI di Indonesia

Studi terbaru IBM mengungkapkan, 79% eksekutif di seluruh dunia meyakini AI akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan perusahaan mereka pada 2030, terutama pada AI agentik. 

Sekitar 80% eksekutif global juga meningkatkan investasi pada AI Agentik. Belanja untuk agen AI pun diperkirakan meningkat hampir tiga kali lipat pada 2027. Harapannya, implementasi teknologi tersebut bisa mendorong visibilitas yang lebih baik, kontrol yang lebih kuat, serta dampak bisnis yang terukur.

Untuk membantu organisasi mewujudkan visi tersebut, IBM juga memperkenalkan perluasan solusi AI perusahaan dan pengelolaan hybrid cloud terlengkapnya hingga saat ini.

Solusi tersebut mencakup generasi terbaru IBM watsonx Orchestrate untuk mengorkestrasi berbagai agen AI, IBM Confluent untuk menyediakan data real-time bagi AI.

Kemudian, platform IBM Concert untuk mendukung operasional cerdas, IBM Sovereign Core untuk menjaga kemandirian operasional, serta IBM Bob, mitra pengembangan perangkat lunak berbasis AI agentik yang dirancang untuk kebutuhan perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News