IDEAS Prediksi Perputaran Ekonomi Kurban Sentuh Rp 26,89 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan nilai ekonomi kurban pada Lebaran Haji tahun ini mencapai Rp 26,89 triliun. Meski masih besar, nilainya diproyeksikan menurun dibanding tahun sebelumnya seiring perubahan pola konsumsi masyarakat dalam berkurban.

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara mengatakan potensi ekonomi kurban tersebut berasal dari sekitar 1,90 juta rumah tangga pekurban dengan estimasi total hewan kurban sebanyak 1,59 juta ekor.

Menurut Tira, jumlah hewan kurban tahun ini diperkirakan terdiri dari sekitar 493 ribu ekor sapi dan 1,09 juta ekor kambing maupun domba.


“Simulasi juga mempertimbangkan preferensi jenis dan bobot hewan kurban, mulai dari sapi utuh hingga skema patungan satu per tujuh sapi serta kambing dan domba dengan berbagai kategori bobot,” ujar Tira dalam keterangannya, Rabu (27/5/2026).

IDEAS mencatat, nilai ekonomi kurban tahun ini sedikit melemah dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 27,10 triliun. Penurunan diperkirakan terjadi akibat berkurangnya jumlah rumah tangga pekurban serta menurunnya preferensi terhadap hewan berbobot besar.

Baca Juga: Pedagang Sebut Kenaikan Harga Daging Sapi Bakal Berlanjut Imbas Konflik Timur Tengah

Tira mengatakan masyarakat kini cenderung memilih hewan kurban dengan harga yang lebih terjangkau di tengah tekanan ekonomi domestik.

“Masyarakat tetap berupaya mempertahankan ibadah kurban, tetapi cenderung memilih hewan dengan harga yang lebih terjangkau,” katanya.

Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat mulai tertekan akibat kenaikan harga pangan, biaya hidup, dan harga ternak dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Tira, pertumbuhan ekonomi nasional yang masih tumbuh di atas 5% belum sepenuhnya tercermin dalam aktivitas kurban karena pertumbuhan tersebut tidak langsung meningkatkan kemampuan rumah tangga untuk berkurban.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya merata,” ujarnya.

Di sisi lain, IDEAS menilai ibadah kurban tetap memiliki dampak sosial dan ekonomi yang besar karena memperluas akses konsumsi protein hewani bagi masyarakat miskin dan rentan.

Baca Juga: Australia Tetap Bidik Pasar Daging Sapi RI di Tengah Tekanan Rupiah

Namun, persoalan utama dalam pelaksanaan kurban masih berkaitan dengan ketimpangan distribusi daging antarwilayah. IDEAS mencatat masih banyak daerah yang mengalami defisit distribusi daging kurban, sementara surplus terbesar terkonsentrasi di wilayah perkotaan Jawa.

Menurut Tira, masalah tersebut tidak bisa dilepaskan dari ketimpangan ekonomi nasional. Daerah dengan pendapatan tinggi dan konsentrasi kelas menengah atas Muslim cenderung menjadi pusat surplus kurban, sedangkan wilayah miskin dan terpencil mengalami kekurangan distribusi daging.

Karena itu, IDEAS mendorong pemerintah memperkuat tata kelola distribusi kurban melalui pembangunan rumah potong hewan halal dan higienis, cold storage, gudang beku, kendaraan logistik berpendingin, hingga integrasi data nasional surplus dan defisit kurban.

“Perlu ada pemetaan daerah surplus dan defisit, pembangunan hub pemotongan terstandar, serta penguatan koordinasi antar lembaga agar distribusi daging kurban lebih efektif dan tepat sasaran,” ujar Tira.

IDEAS juga menilai konsep green kurban perlu diperkuat melalui pengurangan sampah plastik, penggunaan kemasan ramah lingkungan, serta optimalisasi pemotongan di rumah potong hewan modern agar distribusi lebih efisien dan higienis.

Baca Juga: Kuota Impor Daging Sapi Dipangkas Jadi 30.000 Ton, Pemerintah Janji Bakal Evaluasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News