IDPRO: Akusisi dan Konsolidasi Jadi Strategi Penting di Bisnis Data Center



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia atau Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) menilai bahwa akuisisi dan konsolidasi menjadi salah satu strategi yang krusial bagi perusahaan data center.

Hal ini salah satunya tecermin dari langkah Salim Group yang belum lama ini mengambil kepemilikan 100% di usaha patungan pusat datanya, IndoKeppel Data Center, yang kini beroperasi sebagai IndoData Data Center.

Ketua Umum IDPRO, Hendra Suryakusuma mengatakan, di tengah pertumbuhan industri data center nasional yang semakin pesat saat ini, konsolidasi dan akuisisi diperkirakan akan makin menjadi bagian dari dinamika industri.


Sebab, dalam bisnis data center, ia menilai bahwa percepatan jangkauan pasar atau speed-to-market menjadi langkah yang krusial.

"Mengakuisisi atau bermitra dengan platform yang sudah memiliki lahan, power allocation, konektivitas, izin, fasilitas dan basis pelanggan dapat menjadi cara mempercepat ekspansi dibandingkan membangun semuanya dari nol," jelas Hendra kepada Kontan, dikutip Rabu (9/9/2026).

Baca Juga: IDPRO: Kapasitas Data Center Indonesia Berpotensi Tembus 11 GW pada 2030

Di saat yang sama, IDPRO memandang kompetisi di bisnis data center bakal makin ketat, khususnya seiring masuknya investor baru, hyperscaler, perusahaan global, sampai grup nasional yang memperbesar ekosistem dan mempercepat peningkatan standar industri.

Namun, lanjut Hendra, persaingan ke depan dinilai tidak lagi hanya soal perusahaan mana yang memiliki gedung atau kapasitas paling besar.

Menurutnya, competitive advantage akan semakin ditentukan oleh siapa yang mampu mendapatkan pasokan listrik yang reliable dan sustainable secara cepat, hingga memiliki konektivitas yang baik. 

Juga, perusahaan mana yang membangun fasilitas dengan efisien, memenuhi standar keamanan dan reliability yang tinggi, serta memiliki talenta untuk mengoperasikannya.

"Khusus untuk AI data center, kebutuhan listrik per fasilitas bahkan bisa jauh lebih besar dan densitas komputasinya jauh lebih tinggi," kata Hendra.

Baca Juga: IDPRO: Industri Data Center RI Tumbuh 20%, Masuk Fase Ekspansi

Karena itu, dia menilai tantangan terbesar Indonesia sebenarnya bukan ketersediaan sumber daya, melainkan seberapa cepat sumber daya tersebut dapat dibuat siap pakai (ready-to-use) untuk kebutuhan investasi.

Hendra melanjutkan, momentum investasi di usaha data center saat ini harus dimanfaatkan untuk membangun ekosistem data center nasional yang semakin kompetitif. 

"Kita tentu ingin investasi terus masuk, tetapi pada saat yang sama nilai tambahnya juga harus semakin banyak tinggal di Indonesia," ujar Hendra.

Hal ini mulai dari pengembangan SDM, penggunaan energi yang semakin hijau, penguatan industri pendukung, sampai menjadikan Indonesia sebagai salah satu hub infrastruktur digital utama di kawasan.

"Tantangannya sekarang adalah memastikan pertumbuhan demand dan investasi tersebut diimbangi dengan kesiapan energi, regulasi, konektivitas, sustainability, serta talent agar Indonesia benar-benar dapat menangkap peluang besar ini secara optimal," tandasnya.

Baca Juga: IDPRO: Regulasi Residensi Data Jangan Hambat Industri Data Center Nasional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: