KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) menilai penundaan sementara pembangunan data center berbasis artificial intelligence (AI) di Jatiluhur perlu dilihat sebagai bagian dari upaya memastikan aspek lingkungan dan perizinan terpenuhi. Ketua Umum IDPRO, Hendra Suryakusuma mengatakan, pembangunan infrastruktur data center, termasuk untuk kebutuhan AI, merupakan bagian dari transformasi digital dan peningkatan daya saing Indonesia. Namun, pertumbuhan industri tersebut tetap perlu berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan dan perlindungan terhadap kepentingan masyarakat maupun lingkungan. "Terkait penghentian sementara pembangunan data center di Jatiluhur, kami melihat langkah pemerintah untuk memastikan seluruh aspek perizinan dan lingkungan terpenuhi sebagai bagian yang wajar dari tata kelola pembangunan," kata Hendra kepada Kontan, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, kepastian regulasi justru dibutuhkan oleh industri data center untuk memberikan kepastian investasi dalam jangka panjang. Terkait proyeksi kebutuhan air data center Jatiluhur yang disebut dapat mencapai sekitar 384 liter per detik atau 33.000 meter kubik (m³) per hari pada tahap pengembangan penuh, Hendra menilai angka tersebut perlu diteliti lebih lanjut.
Baca Juga: Menko Airlangga Dorong Ekspansi Data Center, Kapasitas Diproyeksi Capai 1,5 GW Ia mengatakan, kebutuhan air tidak sebaiknya dinilai hanya berdasarkan volume nominal. Penilaian perlu mempertimbangkan neraca air secara keseluruhan, mulai dari sumber air, konsumsi bersih, potensi penggunaan kembali, hingga ketersediaan air pada musim kemarau. "Yang lebih penting adalah melihat neraca air secara keseluruhan: dari mana sumber air berasal, berapa konsumsi bersihnya, berapa air yang dapat digunakan kembali, bagaimana proyeksi ketersediaan pada musim kemarau, serta bagaimana kebutuhan tersebut berinteraksi dengan kebutuhan masyarakat, pertanian, dan sektor lainnya," jelasnya. Hendra menegaskan, Waduk Jatiluhur memiliki fungsi strategis yang lebih luas daripada untuk kebutuhan satu industri. Karena itu, kebutuhan dasar masyarakat dan ketahanan pangan harus tetap menjadi prioritas. Ia juga menyebut proyeksi konsumsi sekitar 33.000 m³ per hari tersebut merupakan kebutuhan pada tahap pengembangan penuh, sementara kebutuhan awal disebut lebih rendah. Dengan demikian, keputusan terkait daya dukung sumber air menurutnya perlu didasarkan pada kajian hidrologi dan neraca air yang memperhitungkan kondisi normal hingga skenario kemarau ekstrem. Di sisi lain, IDPRO melihat penggunaan air untuk operasional data center masih dapat ditekan melalui perkembangan teknologi pendinginan. Untuk data center yang melayani komputasi AI dengan kepadatan daya tinggi, kebutuhan pendinginan tidak selalu identik dengan konsumsi air yang tinggi. Beberapa teknologi yang dapat digunakan antara lain closed-loop cooling, direct-to-chip liquid cooling, dry cooling hingga hybrid cooling. Teknologi tersebut dinilai dapat mengurangi penggunaan air dan dalam kondisi tertentu bahkan mendekati penggunaan air yang sangat minim untuk proses pembuangan panas.
Baca Juga: Data Center Marak di Jatiluhur, Air untuk Irigasi dan Pasokan ke Jakarta Terancam "Desain fasilitas harus mempertimbangkan kondisi lokal. Teknologi yang optimal di wilayah dengan sumber air melimpah belum tentu tepat diterapkan di wilayah yang memiliki potensi tekanan terhadap sumber daya air," ujar Hendra. IDPRO mendorong penggunaan indikator Water Usage Effectiveness (WUE) sebagai salah satu parameter dalam pembangunan data center, berdampingan dengan Power Usage Effectiveness (PUE). Menurut Hendra, WUE telah menjadi indikator internasional untuk mengukur intensitas penggunaan air data center. IDPRO juga telah memasukkan aspek tersebut dalam Green Data Center White Paper yang diterbitkan pada 2022. Selain WUE, IDPRO mendorong industri mulai mempertimbangkan Water Usage Impact (WUI), sehingga penggunaan air tidak hanya dihitung berdasarkan volumenya, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kelangkaan atau tekanan sumber air di lokasi data center. "Semakin tinggi tekanan terhadap sumber air di suatu wilayah, semakin tinggi pula tuntutan terhadap penggunaan teknologi low-water atau waterless cooling," katanya. IDPRO juga mendorong pemanfaatan air daur ulang atau sumber air non-potable sepanjang memenuhi aspek teknis, lingkungan dan regulasi. Kerja sama dengan kawasan industri yang memiliki fasilitas pengolahan air berprinsip keberlanjutan maupun teknologi desalinasi juga akan terus dieksplorasi.
Baca Juga: Ekspansi Data Center Indonesia Melesat, IDPRO Bidik Kapasitas 12 GW pada 2030 Lebih lanjut, Hendra menilai Indonesia perlu mempertimbangkan kerangka kebijakan data center yang lebih komprehensif dan lintas sektor. Menurutnya, pembangunan data center dalam skala besar tidak cukup hanya dilihat berdasarkan kebutuhan proyek secara individual. "Data center bukan hanya persoalan bangunan atau teknologi informasi. Infrastruktur ini mempunyai kebutuhan besar terhadap listrik, konektivitas, lahan, dan dalam desain tertentu juga air," jelas Hendra. Karena itu, perencanaan data center idealnya mempertimbangkan daya dukung wilayah secara kumulatif. Aspek seperti ketersediaan dan bauran energi, water stress, kapasitas jaringan listrik, konektivitas fiber, risiko bencana serta daya dukung lingkungan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi pembangunan. Hendra menyebut, IDPRO saat ini juga tengah mempersiapkan peluncuran Indonesia Sustainable Data Center Index. Dalam penyusunannya, IDPRO berkolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital, Dewan Energi Nasional serta Kementerian ESDM. "Harapannya kita bisa naikkan menjadi standard dalam 2-3 tahun ke depan," kata dia. Apabila pembangunan data center di Jatiluhur dilanjutkan, IDPRO menilai setidaknya diperlukan neraca air yang transparan dan terverifikasi, termasuk dengan memperhitungkan kondisi musim kemarau dan ekstrem. Selain itu, penggunaan air untuk data center perlu dipastikan tidak mengurangi alokasi bagi masyarakat dan sektor pertanian. Desain teknologi pendinginan juga perlu menunjukkan upaya untuk menekan konsumsi air melalui evaluasi penggunaan closed-loop, liquid cooling, dry cooling maupun teknologi alternatif lainnya.
IDPRO juga mendorong adanya pemantauan WUE dan konsumsi air secara berkala. Hal ini penting karena kapasitas data center dapat berkembang secara bertahap. "Setiap ekspansi kapasitas sebaiknya dikaitkan dengan evaluasi ulang terhadap ketersediaan air dan energi. Dengan demikian, persetujuan pada kapasitas awal tidak secara otomatis berarti seluruh pengembangan pada kapasitas maksimum dapat dilakukan tanpa evaluasi tambahan," pungkas Hendra.
Baca Juga: Data Center Jadi Magnet Investasi, Kadin Minta Investasi Beri Efek Berganda ke RI Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News