KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia memang tercatat sebagai negara dengan jumlah startup terbesar keenam di dunia. Namun, dari sisi kualitas ekosistem, posisi Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain. Berdasarkan Global Startup Ecosystem Index 2026, Indonesia menempati peringkat ke-45 secara kualitas ekosistem startup. Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya jumlah startup belum sepenuhnya diikuti dengan kemampuan membangun perusahaan teknologi yang berkelanjutan dan berdaya saing global.
Baca Juga: Petani Tebu Minta HPP Gula Naik Menjadi Rp16.875 per Kg, Apa Alasannya? Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan, tantangan terbesar ekosistem startup Indonesia bukan lagi pada kemampuan melahirkan perusahaan rintisan baru, melainkan membawa startup tersebut naik kelas (scaling) menjadi perusahaan teknologi yang mampu bertahan dan berkembang. "Persoalan utamanya adalah adanya gap antara creation dan scaling. Indonesia relatif kuat melahirkan startup baru, tetapi untuk naik kelas menjadi perusahaan teknologi yang berkelanjutan dan mampu bersaing secara global jauh lebih kompleks," ujar Hendra kepada Kontan.co.id, Jumat (7/8). Menurut Hendra, tantangan tersebut semakin besar setelah menurunnya kepercayaan investor akibat sejumlah kasus yang terjadi di ekosistem startup dalam beberapa tahun terakhir. Dampaknya, investor kini jauh lebih selektif dalam menyalurkan pendanaan. Karena itu, startup dituntut memiliki model bisnis yang sehat, mampu menghasilkan arus kas yang berkelanjutan, serta tidak lagi hanya mengandalkan pendanaan eksternal untuk mendorong pertumbuhan.
Baca Juga: Teknologi Keselamatan Jadi Arah Baru Persaingan Industri Otomotif Selain persoalan pendanaan, startup nasional juga masih menghadapi tantangan dari sisi kualitas talenta digital, riset dan inovasi, hingga kesiapan infrastruktur digital. Menurut Hendra, ekosistem digital yang kuat membutuhkan dukungan pusat data (data center), layanan komputasi awan (cloud), jaringan telekomunikasi yang andal, pasokan energi yang memadai, serta sistem keamanan siber yang kuat. Di tengah tantangan tersebut, Hendra melihat peluang bagi startup berbasis kecerdasan buatan (
artificial intelligence/AI) masih sangat besar, terutama bagi perusahaan yang mampu menawarkan solusi atas kebutuhan nyata di berbagai sektor industri. Namun, ia mengingatkan bahwa startup AI juga menghadapi tantangan tersendiri karena tingginya kebutuhan komputasi dan biaya layanan cloud yang akan terus meningkat seiring bertambahnya pengguna dan skala bisnis.
Baca Juga: Samudera (SMDR) Buka Rute Pelayaran Baru Hubungkan India dan Kawasan Teluk Ke depan, Hendra menilai pemerintah perlu memperkuat kepastian regulasi, menciptakan iklim investasi yang kondusif, mempercepat pengembangan talenta digital, serta memperluas pembangunan infrastruktur digital untuk mendukung pertumbuhan startup. Di sisi lain, pelaku startup juga perlu mengubah orientasi bisnis. Fokus tidak lagi hanya mengejar valuasi tinggi, tetapi membangun perusahaan yang sehat, menguntungkan (profitable), dan memiliki daya saing jangka panjang. "Target kita bukan hanya menjadi negara dengan jumlah startup terbanyak, tetapi mampu menghasilkan startup yang berkualitas, profitable, dan berkembang menjadi perusahaan teknologi global," tutup Hendra. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News