KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluncuran indeks IDX Commodity 20 (IDXCMDTY20) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi meningkatkan daya tarik saham-saham sektor komoditas. Namun, investor tetap perlu selektif karena kinerja saham tidak hanya ditentukan oleh masuknya emiten ke dalam indeks, tetapi juga kekuatan fundamental dan prospek bisnis masing-masing perusahaan. Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai, kehadiran indeks tersebut dapat meningkatkan visibilitas sektor komoditas sekaligus mendorong likuiditas perdagangan saham-saham konstituennya.
Baca Juga: IDX Commodity 20 Jadi Katalis Saham Komoditas, Ini Rekomendasi Analis "Kami menilai peluncuran IDX Commodity 20 berpotensi menjadi katalis positif melalui peningkatan visibilitas sektor komoditas, likuiditas perdagangan, serta minat investor domestik maupun asing," ujar Sukarno kepada Kontan, Selasa (3/11/2026). Indeks yang diluncurkan pada Jumat (30/10/2026) tersebut mengukur kinerja 20 saham emiten penghasil dan pemasok komoditas dengan kapitalisasi pasar serta likuiditas transaksi yang baik. Menurut Sukarno, indeks ini juga berpotensi menjadi acuan atau
benchmark bagi pengembangan produk investasi seperti exchange traded fund (ETF) dan reksa dana indeks. "Namun, dampaknya terhadap harga saham akan bergantung pada realisasi aliran dana serta fundamental masing-masing emiten," katanya. Dalam memilih saham komoditas, Sukarno mengutamakan perusahaan dengan pertumbuhan produksi berkelanjutan, biaya operasional kompetitif, arus kas kuat, tingkat utang terkendali, serta valuasi menarik.
Baca Juga: Transaksi First REIT Jadi Katalis Siloam (SILO), Ini Rekomendasi Analis Emiten yang memiliki eksposur terhadap emas, tembaga, dan mineral strategis juga berpotensi menarik perhatian investor. Hal ini seiring meningkatnya kebutuhan untuk elektrifikasi, pengembangan energi terbarukan, dan pembangunan pusat data atau
data center. Sementara itu, emiten dengan bobot besar dalam indeks berpeluang memperoleh perhatian lebih dari pelaku pasar. Meski demikian, Sukarno mengingatkan bahwa bobot besar tidak otomatis menjamin kinerja saham yang lebih baik. Di sisi lain, tidak masuknya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (
ITMG) dan PT Bukit Asam Tbk (
PTBA) dalam IDX Commodity 20 juga tidak serta-merta mengurangi daya tarik fundamental kedua emiten tersebut. "ITMG masih menarik dari sisi arus kas, neraca keuangan, dan potensi dividen, meskipun kenaikan biaya produksi perlu dicermati. Sementara itu, PTBA memiliki prospek pemulihan laba yang didukung efisiensi operasional dan peningkatan harga jual," jelas Sukarno. Secara sektoral, Sukarno melihat prospek industri komoditas masih cukup menarik, tetapi investor perlu menerapkan strategi yang lebih selektif.
Baca Juga: BEI Luncurkan Indeks IDX Commodity 20, Ini Saham Pilihan Analis Emas dan tembaga berpotensi diuntungkan oleh permintaan aset lindung nilai, elektrifikasi, serta pengembangan pusat data. Adapun sektor nikel masih menghadapi tantangan kelebihan pasokan. Untuk batu bara, kebutuhan energi global berpotensi menopang permintaan dalam jangka pendek. Namun, investor tetap perlu mencermati risiko normalisasi harga dalam jangka menengah.
Sektor minyak dan gas bumi juga masih memiliki peluang, bergantung pada perkembangan geopolitik serta keseimbangan pasokan dan permintaan global. "Karena itu, kami menyarankan investor fokus pada emiten dengan efisiensi biaya, fundamental kuat, dan valuasi kompetitif," imbuhnya. Dari sisi rekomendasi saham, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan
hold untuk saham PTBA dengan target harga Rp 3.320 per saham. Sementara itu, saham PT Aneka Tambang Tbk (
ANTM) direkomendasikan
buy dengan target harga Rp 4.100 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News