KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mengungkapkan pentingnya penguatan regulasi hingga kesiapan Indonesia untuk meningkatkan daya tarik investasi Eropa, seiring dengan target implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) pada awal 2027. Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Nurul Ichwan mengatakan, Indonesia perlu memastikan iklim investasi yang kompetitif untuk menarik investasi jangka panjang. "Yang paling penting adalah memastikan bahwa Indonesia tidak hanya menarik secara ekonomi, tetapi juga mudah dan kompetitif sebagai lokasi investasi jangka panjang," ujar Ichwan kepada Kontan, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga: IEU-CEPA Dikebut, BKPM Sebut Prospek Industri EV Nasional Semakin Melaju Menurutnya, salah satu hal yang perlu diperkuat adalah kepastian hukum dan konsistensi regulasi. Hal ini penting mengingat investor besar tidak hanya mempertimbangkan insentif dalam menentukan lokasi investasi. "Pertama, menjaga kepastian hukum dan konsistensi regulasi. Pengalaman global menunjukkan bahwa investor besar lebih menghargai kepastian kebijakan, kecepatan eksekusi, dan kemudahan berusaha dibanding insentif semata," lanjutnya. Lebih lanjut, pemerintah juga disebut perlu memperkuat layanan perizinan dan mempercepat realisasi investasi. Ia menilai langkah ini salah satunya dapat dilakukan melalui penerapan sistem Online Single Submission (OSS). "Kedua, memperkuat layanan perizinan dan percepatan realisasi investasi melalui sistem OSS, penyelesaian hambatan investasi, serta penguatan fasilitasi proyek strategis," ujar dia. Selain itu, pengembangan energi terbarukan dan kawasan industri hijau juga menjadi perhatian untuk menarik investor.
Baca Juga: IEU-CEPA Dikebut, Indonesia Prioritaskan Perjanjian Dagang untuk Perluas Pasar Hal tersebut sejalan dengan tuntutan perusahaan Eropa terhadap penggunaan energi bersih dan standar keberlanjutan. "Banyak perusahaan Eropa saat ini mensyaratkan penggunaan energi bersih untuk memenuhi target dekarbonisasi dan standar keberlanjutan global," lanjut Ichwan. Adapun ia juga menggarisbawahi kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan talenta untuk mendukung investasi di sektor berteknologi tinggi, terutama seiring dengan persaingan talenta global yang semakin ketat. "Kompetisi investasi global semakin ditentukan oleh ketersediaan tenaga kerja terampil, engineer, peneliti, dan tenaga profesional yang mampu mendukung industri berteknologi tinggi," ungkapnya. Di sisi industri, Ichwan melihat Indonesia juga perlu meningkatkan kemampuan untuk memenuhi berbagai standar yang berlaku di pasar Uni Eropa, seperti standar kualitas, ketertelusuran, hingga keberlanjutan. "Kelima, memperkuat kesiapan industri nasional dalam memenuhi standar kualitas, ketertelusuran (traceability), dan keberlanjutan yang berlaku di Uni Eropa. Dengan demikian, akses pasar yang dibuka melalui IEU-CEPA dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku usaha nasional," jelasnya.
Baca Juga: Kadin: IEU-CEPA Harus Dorong Ekspor Produk Bernilai Tambah Secara keseluruhan, ia menegaskan implementasi IEU-CEPA akan membuka peluang besar bagi Indonesia. Akan tetapi, pemanfaatan peluang tersebut akan bergantung pada kesiapan iklim investasi dan industri nasional. "Keberhasilan Indonesia memanfaatkan peluang akan ditentukan oleh kemampuan kita menghadirkan iklim investasi yang kompetitif, serta mampu menghubungkan sumber daya alam Indonesia dengan teknologi, modal, dan jaringan pasar global yang dimiliki Eropa," tandasnya. Sebagai informasi, negosiasi IEU-CEPA telah rampung pada September 2025. Perjanjian tersebut ditargetkan ditandatangani pada November 2026 dan mulai diimplementasikan pada awal 2027 mendatang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News