Ignatius Zaldy sukses berkat katering makanan sehat



Sukses sering datang dari kejelian melihat peluang. Setelah jatuh sakit, Ignatius Zaldy menggarap bisnis katering makanan organik. Dengan menyasar konsumen yang menjalani diet, saban bulan Zaldy mampu meraih omzet hingga Rp 300 juta.

Selalu ada hikmah di balik setiap kesusahan. Bermula dari pengalaman waktu sakit, kini, Ignatius Zaldy sukses menjadi pengusaha katering organik lewat bendera My Meal Catering. Kliennya adalah para penderita sakit dan mereka yang menjalani program diet.

Untuk menggapai sukses saat ini, Zaldy harus melalui perjalanan yang cukup panjang. Saat mengawali bisnis, ia pun sempat jatuh bangun. Untung, sejak remaja, Zaldy telah dididik agar memiliki mental yang kuat.


Lantaran nakal, orangtua Zaldy menyekolahkan anak laki-lakinya di luar kota. Ia menempuh jenjang SMA di SMA Aloysius, Bandung. Konsekuensinya, pria kelahiran Jakarta 9 Juli 1971 ini harus tinggal di rumah kos. Nah, kondisi ini memaksa Zaldy belajar hidup mandiri.

Selepas SMA, Zaldy harus mengubur impiannya untuk masuk ke Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) lantaran tidak lolos tes.

Gagal masuk ITB, Zaldy memutuskan kuliah di Jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti, Jakarta. Setelah lulus kuliah, ia mencoba terjun di bisnis jual beli alat kesehatan seperti CT scan, X-ray, sampai inkubator. Setiap hari, ia menjajakan dagangannya ke banyak tempat, termasuk ke luar kota.

Tapi, Zaldy lebih sering menghadapi penolakan. Ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam menunggui dokter tanpa hasil. Singkat cerita, hasil bisnis perdananya ini sangat minim. “Rasanya down sekali saat itu,” katanya.

Di tengah usahanya mempertahankan bisnis jual beli alat kesehatan, Zaldy jatuh sakit. Ia terkena hipertensi dan harus menjalani perawatan di rumahsakit. Tak cuma itu, sepulang dari rumahsakit pun, ia masih harus menjalani diet ketat dengan menu khusus.

Istri Zaldy harus memasak dua menu. Maklum, makanan untuk penderita hipertensi umumnya harus menggunakan garam khusus. Melihat kerepotan sang istri, ia mencoba mencari katering khusus yang menyediakan makanan diet.

Ternyata, pada 2006, di Jakarta belum ada katering makanan sehat yang menyediakan menu bagi konsumen yang baru sembuh dari sakit. Kalau pun ada, makanan yang tersedia tidak memakai bahan organik dan masih menggunakan penyedap rasa.

Saat itu, Zaldy memperoleh informasi dari dokter bahwa jumlah pasien yang senasib dengan dirinya sangat banyak. Bahkan, banyak yang harus kembali dirawat lantaran mengonsumsi makanan yang tidak sesuai program diet.

Dari kesulitan itu, Zaldy mendapatkan ide untuk berbisnis katering makanan organik. “Kebetulan, istri saya jago masak dan saya punya sedikit ilmu soal kesehatan,” katanya.

Zaldy pun memulai bisnis katering makanan organik dengan merek My Meal Catering. Bermodal uang simpanannya sebesar Rp 20 juta, ia menyewa ruko di Serpong sebagai dapur. Ia juga membeli alat masak dan merekrut dua koki serta seorang tenaga delivery service. Ia juga memanfaatkan alat-alat kesehatan yang tidak terjual, seperti alat menghitung kandungan nutrisi, untuk mengukur menu makanan yang pas.

Seret di awal

Awalnya, bisnis ini berjalan seret. Zaldy harus mencoba puluhan resep makanan sampai menemukan rasa yang paling pas dan nikmat. Tapi, ia rajin berkonsultasi dengan para dokter kenalannya untuk mendapatkan informasi soal menu makanan sehat bagi pasien.

Enam bulan pertama, usahanya belum balik modal. Tapi, Zaldy tak putus asa menawarkan menu makanan organik olahannya. Hasilnya, pelanggan My Meal terus bertambah. Dari hanya tetangga dan kerabat, lokasi pelanggannya terus meluas ke kawasan Tangerang dan Jakarta. Kini, ia memiliki pelanggan mencapai 1.000 orang.

Untuk mencukupi kebutuhan mereka, My Meal mempekerjakan 30 orang dan mengoperasikan dua dapur di Serpong dan Jl. Jenderal Sudirman.

Dengan harga paket katering mulai Rp 800.000 sampai Rp 7,6 juta sebulan, saat ini, Zaldy mampu meraup omzet sekitar Rp 300 juta per bulan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tri Adi