IHSG Akhiri Penguatan Empat Hari Beruntun, Ini Proyeksi untuk Selasa (27/10)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada awal pekan ini, di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia.

Setelah menguat selama empat hari perdagangan beruntun pada pekan lalu, pergerakan IHSG diperkirakan cenderung terbatas.

Pada perdagangan Senin (26/10/2026), IHSG turun 66,16 poin atau 1,22% ke level 5.373,09 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pelemahan tersebut sekaligus mengakhiri tren penguatan indeks selama empat hari berturut-turut.


Baca Juga: Ada 2 Pendatang Baru, Inilah Daftar Anggota Indeks IDX30 Mulai 2 November 2026

Tekanan pasar juga terlihat dari berlanjutnya aksi jual investor asing. Asing mencatatkan net sell atau jual bersih sebesar Rp 1,85 triliun di seluruh pasar.

Di pasar reguler, nilai jual bersih asing mencapai Rp 2,03 triliun, sedangkan di pasar tunai dan negosiasi tercatat net buy atau beli bersih sebesar Rp 172,12 miliar.

Saham dengan nilai jual bersih asing terbesar adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 400 miliar, disusul PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebesar Rp 329,4 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 235,5 miliar.

Sebaliknya, saham PT Olympus Strategic Indonesia Tbk (NATO) mencatatkan beli bersih asing terbesar, yakni Rp 80,4 miliar.

Posisi berikutnya ditempati PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sebesar Rp 40,8 miliar dan PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) sebesar Rp 35,1 miliar.

Equity Analyst Research Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mencatat seluruh sektor saham berakhir di zona merah pada perdagangan Senin. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor infrastruktur, teknologi, dan energi.

Baca Juga: Laba Trimitra Trans (BLOG) Naik 10,9% Jadi Rp 120,87 Miliar hingga September 2026

"Kenaikan harga minyak dan depresiasi rupiah menjadi pendorong pelemahan indeks pekan lalu," ujar Alrich kepada Kontan, Senin (26/10/2026).

 
BMRI Chart by TradingView

Pada periode yang sama, rupiah melemah 0,2% ke level Rp 18.127 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan mata uang domestik dan kenaikan harga energi menjadi faktor yang dicermati investor karena dapat menambah tekanan terhadap pasar keuangan.

Dari sisi teknikal, Alrich mencermati IHSG kembali ditutup di bawah level psikologis 5.400. Meski demikian, indeks masih bertahan di atas moving average lima hari (MA5).

Sementara itu, histogram negatif indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) berlanjut menyempit. Indikator Stochastic Relative Strength Index (RSI) juga bergerak di area pivot.

Berdasarkan kondisi tersebut, Alrich memperkirakan IHSG pada perdagangan Selasa (27/10/2026) bergerak mendatar atau sideways dalam rentang 5.280–5.450.

Investor akan mencermati perkembangan nilai tukar rupiah, harga minyak dunia, serta arah aliran dana asing untuk melihat peluang pergerakan indeks selanjutnya.

Baca Juga: IHSG Masih Bearish, BRI Danareksa Rekomendasikan BBNI, TLKM dan AADI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: