KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi tekanan jual. Pada perdagangan Kamis (1/10/2026), IHSG ditutup turun 1,02% ke level 6.009,50. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan IHSG dipengaruhi oleh kombinasi sentimen dari dalam dan luar negeri. Dari domestik, pelaku pasar mencermati perkembangan reshuffle kabinet yang kembali memunculkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan pemerintah ke depan. Tekanan jual investor asing juga masih menjadi perhatian setelah pada perdagangan sebelumnya mencatatkan net sell sekitar Rp1,56 triliun di pasar reguler.
“Terkait reshuffle kabinet, dampaknya terhadap pasar sangat bergantung pada persepsi investor terhadap figur yang ditunjuk dan kontinuitas kebijakan ekonomi. Dalam jangka pendek, reshuffle dapat meningkatkan volatilitas karena pasar perlu menilai kembali arah kebijakan, koordinasi antarkementerian, serta implikasinya terhadap program fiskal dan ekonomi,” ujar Nafan kepada kontan (1/10/2026).
Baca Juga: Premi Risiko Mereda, Cermati Prospek Harga Minyak Mentah Global Sementara itu, dari eksternal, Nafan menyoroti level yield US Treasury yang masih tinggi, tekanan terhadap rupiah, serta ketidakpastian geopolitik. Kondisi tersebut dinilai membatasi minat investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang atau emerging market. Menurut Nafan, IHSG masih berpotensi bergerak volatil dan konsolidatif sebelum mampu membentuk tren pemulihan yang lebih kuat. Dari sisi teknikal, Nafan melihat area 6.019 sebagai level support penting IHSG. Apabila level tersebut ditembus, support berikutnya berada di sekitar 5.854. Adapun pada sisi atas, area 6.185-6.240 menjadi resistance yang perlu dilewati IHSG untuk mengonfirmasi peluang terjadinya technical rebound. Menurutnya, selama IHSG masih mampu bertahan di atas area support tersebut, peluang rebound tetap terbuka. Namun, apabila support 6.019 ditembus secara signifikan, investor perlu mengantisipasi risiko koreksi lanjutan.
Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Fokus Restrukturisasi, Simak Prospek Kinerjanya IHSG Diproyeksikan Masih Melemah
Di sisi lain, Praktisi Pasar Modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, menilai IHSG masih berada dalam kondisi strong bearish.
Menurut William, tekanan terhadap IHSG masih cukup kuat setelah indeks sempat turun ke bawah level psikologis 6.000 pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Untuk perdagangan Jumat (2/10/2026), William memproyeksikan IHSG masih berpotensi melemah dalam rentang 5.966-6.080. William juga merekomendasikan investor mencermati sejumlah saham untuk perdagangan jangka pendek. Dua saham yang menjadi perhatiannya adalah DSSA dengan target harga Rp1.180-Rp1.200 dan PTRO dengan target Rp5.400-Rp5.500. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News