KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) anjlok lebih dari 11% pada perdagangan Jumat (16/10/2026), mencatat penurunan harian terdalam sejak Januari 1998. Aksi jual besar-besaran dipicu peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menilai status Indonesia sebagai pasar saham berkembang (emerging market) sudah tidak lagi sesuai. Mengutip
Reuters, IHSG sempat merosot hingga 11,4% ke level terendah sejak awal November 2020.
Baca Juga: Kapolri, Danantara, dan DPR Kunjungi BEI, Bahas Sanksi Transaksi Saham Penurunan ini memperpanjang tekanan di pasar saham Indonesia, yang telah kehilangan hampir 40% nilainya sepanjang tahun ini dan menjadi pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia. Dalam pernyataan yang mengejutkan pasar, MSCI menyebut Indonesia berpotensi diturunkan ke kategori
standalone market, satu tingkat di bawah kategori
frontier market yang sebelumnya telah menjadi perhatian. Jika penurunan status tersebut terealisasi, saham-saham Indonesia berisiko dikeluarkan dari indeks global yang menjadi acuan investasi dana internasional. Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal dalam jumlah besar. Data LSEG menunjukkan investor asing telah menarik dana sekitar US$ 4,6 miliar dari pasar saham Indonesia sepanjang tahun ini. UBS memperkirakan, penghapusan saham Indonesia dari indeks global dapat memicu arus keluar dana pasif sekitar US$ 4 miliar. Sementara itu, potensi penarikan dana dari investor aktif diperkirakan mencapai US$ 15 miliar.
Baca Juga: IHSG Ambruk 11,18% ke 5.208 Pukul 14.35 WIB, Top Losers LQ45: HRTA, ESSA, BBTN "Prioritas mendesak Indonesia adalah menunjukkan perbaikan terukur dalam transparansi pasar dan penegakan regulasi, bukan sekadar mengumumkan reformasi tambahan," kata Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, seperti dikutip Reuters. Tekanan jual melanda berbagai saham unggulan, termasuk sektor perbankan, pertambangan, dan energi. Sejumlah saham berkapitalisasi besar bahkan turun mendekati batas penurunan harian sebesar 15% yang ditetapkan bursa. Pelemahan juga merembet ke pasar valuta asing. Rupiah sempat melemah ke Rp 18.070 per dolar AS, level terendah sejak akhir Juli, sebelum memangkas pelemahan ke sekitar Rp 18.000 per dolar AS. Analis Citi menilai peringatan MSCI tersebut meningkatkan risiko arus keluar dana investor aktif dalam jangka pendek. Meski demikian, skenario dasar mereka masih memperkirakan Indonesia dapat mempertahankan status sebagai pasar berkembang. Jika penurunan status benar-benar terjadi, Indonesia akan masuk kelompok pasar standalone bersama Argentina, Lebanon, Palestina, dan Ukraina.
Baca Juga: Bursa Asia Rebound Saat Bursa Indonesia Sempat Ambruk 11% Usai Pengumuman MSCI Indonesia juga akan menjadi satu-satunya pasar Asia-Pasifik dalam kategori tersebut, sekaligus negara dengan ekonomi terbesar di kelompok itu. Perkembangan ini menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia di tengah derasnya arus keluar modal asing. Kepastian arah kebijakan dan perbaikan transparansi pasar menjadi faktor penting untuk memulihkan kepercayaan investor global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News