IHSG Ambruk 11%, Terburuk dalam 28 Tahun, Dana Asing Terancam Kabur US$ 28 Miliar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 11% pada perdagangan Jumat (16/10/2026), mencatat penurunan harian terdalam dalam 28 tahun terakhir. Kejatuhan ini terjadi setelah penyedia indeks global MSCI menyatakan status pasar saham Indonesia sebagai emerging market atau pasar berkembang tidak lagi tepat dan membuka jalan bagi penurunan klasifikasi menjadi standalone market.

Langkah mengejutkan MSCI tersebut memicu kekhawatiran akan keluarnya dana investasi asing hingga miliaran dolar AS dari pasar saham Indonesia. Status standalone market bahkan lebih rendah dibandingkan kategori frontier marketyang sebelumnya menjadi ancaman bagi Indonesia.

Pada perdagangan Jumat, IHSG sempat merosot hingga 11,4% ke level terendah sejak awal November 2020. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak Januari 1998, ketika Indonesia menghadapi gejolak pasar di tengah krisis finansial Asia.


Baca Juga: OJK Sebut Tengah Jalankan Reformasi Terbesar dalam Sejarah Pasar Modal

Secara kumulatif, saham-saham Indonesia telah kehilangan hampir 40% nilainya sepanjang 2026. Kondisi ini menjadikan pasar saham domestik sebagai yang berkinerja terburuk di dunia.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, Indonesia perlu memprioritaskan perbaikan nyata dalam transparansi pasar dan penegakan aturan.

“Prioritas mendesak Indonesia seharusnya menunjukkan perbaikan yang terukur dalam transparansi pasar dan penegakan regulasi, bukan sekadar mengumumkan reformasi tambahan,” kata Josua.

Data LSEG menunjukkan investor asing telah menarik dana sekitar US$ 4,6 miliar dari saham-saham Indonesia sepanjang tahun ini. Sementara itu, UBS memperkirakan penghapusan Indonesia dari indeks global dapat memicu arus keluar dana pasif tambahan sebesar US$ 4 miliar dan sekitar US$ 15 miliar dari investor aktif.

Jika penurunan status tersebut terealisasi, Indonesia akan bergabung dengan Argentina, Lebanon, Palestina, dan Ukraina dalam kategori standalone market. Indonesia akan menjadi satu-satunya pasar Asia-Pasifik dalam kelompok tersebut sekaligus memiliki perekonomian terbesar, dengan produk domestik bruto (PDB) lebih dari dua kali lipat Argentina.

Saham unggulan berguguran, rupiah melemah

Tekanan jual melanda berbagai saham unggulan, termasuk emiten perbankan besar, pertambangan, dan energi. Pada perdagangan Jumat, saham-saham tersebut merosot mendekati batas penurunan harian bursa sebesar 15%.

Pelemahan pasar saham turut menekan rupiah. Mata uang Indonesia tersebut sempat melemah ke level Rp 18.070 per dolar AS, terendah sejak akhir Juli, sebelum memangkas pelemahan ke sekitar Rp 18.000 per dolar AS.

Baca Juga: Yield SBN Berisiko Naik hingga 7,4%, Dana Asing Bisa Keluar Rp 60 Triliun

Rupiah termasuk mata uang dengan kinerja terburuk sepanjang tahun ini, seiring tekanan terhadap pasar keuangan domestik dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek investasi di Indonesia.

Analis Citi menilai keyakinan investor terhadap pasar Indonesia telah melemah. Mereka juga tidak menutup kemungkinan meningkatnya arus keluar dana dari investor aktif dalam jangka pendek.

“Keyakinan telah melemah dan peningkatan arus keluar dana dari investor aktif dalam jangka pendek tidak dapat dikesampingkan,” tulis analis Citi.

Meski demikian, Citi menyatakan skenario dasar mereka masih memperkirakan Indonesia dapat mempertahankan status emerging market.

Namun, Citi menilai kemungkinan arus keluar dana dari investor aktif semakin besar setelah peringatan penurunan status terbaru dari MSCI. Jika penurunan status benar-benar terjadi, arus keluar dana pasif yang berpotensi mencapai miliaran dolar AS dalam jumlah satu digit menengah juga dapat menyusul.

Bursa Asia bergerak beragam

Di kawasan Asia Timur, saham Korea Selatan bangkit dari level penutupan terendah dalam enam bulan. Meski demikian, pasar saham negara tersebut masih berada di jalur menuju penurunan mingguan terbesar dalam 18 tahun setelah aksi jual tajam yang dipicu kekhawatiran terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).

Saham Taiwan juga bergerak menguat tipis setelah terkoreksi lebih dari 3% pada perdagangan sebelumnya. Namun, dolar Taiwan melemah ke level 32,520 per dolar AS, terendah sejak akhir Juli, terutama akibat tekanan arus keluar dana dari pasar saham.

Indeks MSCI yang mengukur saham-saham pasar berkembang Asia, dengan dominasi saham cip dari Asia Timur, naik 1%. Kendati demikian, indeks tersebut masih menuju kinerja mingguan terburuk sejak pecahnya perang di Timur Tengah.

Di kawasan Asia Tenggara, saham Singapura naik 0,5%, sedangkan bursa Filipina menguat lebih dari 2%. Peso Filipina juga pulih dari rekor terendah yang tercatat pada Kamis dan terakhir diperdagangkan pada 62,991 per dolar AS.

Baca Juga: Pasar Saham Goncang, Danantara Sebut Valuasi Saham BUMN Rendah dan Menarik Dibeli

Sebaliknya, saham Malaysia turun 0,7%. Pasar saham Thailand tidak beroperasi pada Jumat karena libur nasional.

Tekanan terhadap pasar Indonesia kini menjadi perhatian utama investor regional, terutama karena ancaman perubahan klasifikasi MSCI dapat memengaruhi aliran investasi global dan memperbesar volatilitas pasar keuangan domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News