IHSG Anjlok 11%, Terburuk Sejak 1998 Setelah MSCI Soroti Status Pasar Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Jumat (16/10/2026), dengan penurunan mencapai 11%.

Pelemahan tersebut menjadi yang terdalam sejak 1998, setelah penyedia indeks global MSCI menyatakan bahwa pasar saham Indonesia tidak lagi memenuhi kriteria untuk menyandang status emerging market atau pasar negara berkembang.

Keputusan tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia. MSCI tengah mempertimbangkan untuk mengeluarkan pasar saham Indonesia dari sejumlah produk investasinya yang menjadi acuan investor global. Langkah ini berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar dari pasar saham domestik.


Manajer investasi ekuitas negara berkembang di Pictet Asset Management, Tan Altundag, menilai rencana tersebut mencerminkan ketidakpuasan MSCI terhadap perkembangan reformasi pasar modal Indonesia.

“Usulan tersebut menyoroti ketidakpuasan MSCI terhadap kecepatan reformasi dan kembali menimbulkan pertanyaan mengenai kelayakan pasar Indonesia sebagai tujuan investasi,” kata Altundag.

Baca Juga: Miliarder China Ramai-Ramai Jual Saham untuk Bayar Pajak di Luar Negeri

Ia menambahkan, dampak terhadap investasi berpotensi signifikan. Altundag menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki kepemilikan saham di Indonesia.

Langkah MSCI ini menjadi pukulan bagi pasar modal Indonesia di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset berisiko. Perkembangan tersebut juga menambah tekanan terhadap kepercayaan investor terhadap transparansi, aksesibilitas, dan kualitas pasar saham domestik.

Bursa Asia Rebound Setelah Aksi Jual Saham Teknologi

Di tengah tekanan terhadap IHSG, mayoritas bursa saham Asia justru mengalami penguatan pada Jumat setelah mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), saham-saham teknologi tertekan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap beban utang perusahaan komputasi awan CoreWeave. Kondisi tersebut memicu pertanyaan mengenai keberlanjutan pembiayaan yang menopang pesatnya perkembangan industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Indeks Nikkei Jepang menguat 1,9%, memulihkan sebagian penurunan hampir 5% pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan naik 3,3% setelah sempat anjlok hampir 8%.

Indeks saham Taiwan bertambah 0,3%, sedangkan Hang Seng Hong Kong menguat 1%. Di sisi lain, indeks saham unggulan China daratan, CSI 300, bergerak relatif stabil.

Kontrak berjangka STOXX 50 Eropa juga naik 0,7%. Sementara itu, kontrak berjangka Nasdaq dan S&P 500 Amerika Serikat masing-masing menguat 0,2% setelah kedua indeks tersebut mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Kamis.

Saham CoreWeave yang didukung Nvidia mulai pulih pada Kamis setelah sempat melanjutkan penurunan sebesar 15,5% pada perdagangan Rabu. Sebelumnya, muncul laporan bahwa imbal hasil obligasi perusahaan tersebut telah mencapai level yang diasosiasikan dengan utang bermasalah atau distressed debt.

Perkembangan itu memicu aksi jual saham secara luas, terutama pada sektor yang berkaitan dengan AI.

Baca Juga: Rusia Hampir Rampungkan Pangkalan Drone Jet dalam Enam Minggu, Dekat Ukraina

Saham Produsen Memori Tertekan Persaingan Chip China

Selain persoalan utang CoreWeave, analis juga menyoroti tekanan terhadap saham produsen memori sepanjang pekan ini.

Kekhawatiran meningkat setelah perusahaan asal China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), melaporkan kemajuan dalam pengembangan arsitektur DRAM generasi berikutnya. Kemajuan tersebut berpotensi meningkatkan persaingan dengan produsen memori yang telah mapan di pasar global.

Analis pasar di Capital.com, Kyle Rodda, menggambarkan kondisi pasar global yang kembali bergejolak setelah sebelumnya mengalami periode volatilitas rendah.

“Pasar global kembali sangat bergejolak setelah melewati periode volatilitas rendah. Wall Street bergerak naik turun tajam, imbal hasil obligasi berayun, pasar mata uang mengalami pergerakan ekstrem, dan harga komoditas bergerak ke berbagai arah,” tulis Rodda dalam catatan kepada klien.

Menurut dia, pasar global berpotensi menghadapi periode volatilitas yang berkepanjangan. Kondisi ini dipengaruhi oleh sejumlah perusahaan teknologi yang akan mengumumkan laporan keuangan dalam beberapa pekan mendatang, serta upaya investor memperkirakan arah suku bunga utama.

Arah Suku Bunga The Fed Masih Jadi Perhatian

Dari Amerika Serikat, Ketua Federal Reserve Kevin Warsh menyampaikan optimisme mengenai kekuatan ekonomi AS dalam pernyataannya pada pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Jumat.

Namun, Warsh tidak memberikan petunjuk yang jelas mengenai kemungkinan perubahan suku bunga pada bulan ini. Ia kembali menegaskan bahwa dirinya tidak akan mendahului keputusan dalam rapat kebijakan.

Sementara itu, Gubernur Bank of England Andrew Bailey mengatakan kenaikan tajam harga energi akibat perang Iran sejauh ini tampak memberikan dampak lanjutan yang terbatas terhadap harga-harga di Inggris. Meski demikian, ia menilai masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti.

Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih rendah sepanjang pekan ini turut mengurangi daya tarik dolar AS.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, berada di bawah level 102 setelah terkoreksi tajam dari posisi tertinggi dalam 1,5 tahun di sekitar 103 pada Rabu. Secara mingguan, indeks tersebut melemah 0,3%.

Pelemahan dolar memberikan ruang bagi euro untuk menguat. Euro naik dari level terendah US$ 1,1113 pada Rabu menjadi sekitar US$ 1,1226 pada Jumat.

Pound sterling juga menguat ke US$ 1,3295 setelah naik 0,6% pada Kamis. Sementara itu, dolar AS relatif stabil di level 157,86 yen Jepang.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terkoreksi, Brent dan WTI Masih Menguat Sepekan

Harga Emas Menguat, Minyak Mentah Terkoreksi

Di pasar komoditas, harga emas melanjutkan penguatan setelah mencatat kenaikan 1,6% pada Kamis. Harga emas bergerak naik ke sekitar US$ 4.173 per ons troi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman atau safe haven.

Sebaliknya, harga minyak mentah terkoreksi ketika investor mempertimbangkan risiko geopolitik di Timur Tengah dan kemungkinan langkah Amerika Serikat untuk melonggarkan pembatasan terhadap armada kapal tanker yang digunakan mengangkut minyak dari sejumlah negara yang terkena sanksi.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap sebagian kapal dalam armada tersebut. Kapal-kapal itu diketahui mengangkut minyak dan produk petroleum dari negara-negara, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela.

Seorang pejabat AS mengatakan pada Rabu bahwa langkah tersebut dipertimbangkan untuk membantu menurunkan tarif angkutan laut global yang telah mencapai rekor tertinggi.

Namun, eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, serta kembali terjadinya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut, masih menjadi faktor yang menopang harga minyak.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,7% menjadi US$ 105,14 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,7% ke level US$ 97,26 per barel.