KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,49% atau turun 184,25 poin ke level 5.098,06 pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, tekanan IHSG menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia sedang menghadapi persoalan yang lebih serius daripada sekadar koreksi harga. Menurut Hendra, kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar domestik. Persoalan utamanya bukan semata-mata valuasi saham yang turun, melainkan krisis kepercayaan yang membuat investor cenderung menahan pembelian dan mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia.
Asing masih tercatat jual bersih alias net sell sebesar Rp 1,08 triliun pada Kamis (29/10/2026), sehingga secara akumulasi asing telah jual bersih sebesar Rp 97,78 triliun di sepanjang 2026.
Baca Juga: 9 Bulan, Goto Raih Pendapatan Bersih Capai Rp17 T, Laba Bersih Tembus Rp1,16 T Dari sisi domestik, ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, transparansi kepemilikan saham, kualitas tata kelola, dan kredibilitas mekanisme perdagangan menjadi sentimen yang sensitif. Hendra menilai, berbagai rencana reformasi pasar modal berpotensi menjadi katalis positif. Namun, dampaknya tidak akan langsung terasa apabila implementasinya belum konsisten dan belum mampu memulihkan kepercayaan investor. Dari sisi global, ketidakpastian arah suku bunga The Fed dan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS. Kondisi ini dapat mendorong pergeseran dana dari pasar negara berkembang menuju instrumen yang dinilai lebih aman. Dengan demikian, tekanan IHSG berasal dari kombinasi faktor eksternal dan persoalan internal, termasuk tata kelola, transparansi, dan arus dana. Dari sisi teknikal, penutupan IHSG di level 5.098,06 menempatkan indeks dalam posisi rentan. Area 4.980 menjadi support penting yang perlu dipertahankan, sedangkan 5.200 merupakan resistance utama yang harus ditembus untuk membuka ruang pemulihan. Jika support 4.980 gagal dipertahankan, tekanan jual berpotensi berlanjut menuju area psikologis 4.900. Sebaliknya, penguatan menuju 5.150-5.200 masih berpotensi sebatas technical rebound apabila tidak disertai peningkatan volume beli dan perbaikan arus dana. "Investor perlu membedakan rebound akibat aksi beli jangka pendek dari pembalikan tren yang lebih berkelanjutan. Selama tekanan jual asing masih besar dan sentimen belum membaik, kenaikan indeks berisiko kembali diikuti aksi jual,” ujar Hendra kepada Kontan, Kamis (29/10/2026). Untuk perdagangan Jumat (30/10), Hendra memperkirakan IHSG masih bergerak volatil dengan kecenderungan defensif. Ia menilai investor sebaiknya tidak menjadikan penurunan harga sebagai satu-satunya alasan untuk membeli. Strategi yang lebih rasional adalah menjaga likuiditas, membatasi penggunaan modal, menghindari transaksi spekulatif berlebihan, dan menunggu konfirmasi bahwa tekanan jual mulai mereda.
Baca Juga: Pasar Surat Utang Tertekan, Obligasi Korporasi Lebih Tahan Di sisi lain, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG terkoreksi disertai dengan tekanan jual yang cukup besar. Menurutnya, tekanan diperkirakan berasal dari koreksi saham-saham perbankan berkapitalisasi besar dan arus keluar dana asing yang relatif besar. “Untuk besok, kami perkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan support 5046 dan resist 5155, dimana akan ada rilis data GDP AS dan juga pasar masih mewaspadai akan adanya tekanan jual,” tuturnya. Adapun saham yang dapat dicermati menurut Herditya adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) pada rentang Rp 3.490-Rp 3.750, PT Indika Energy Tbk (INDY) pada rentang Rp 2.030-Rp 2.250, dan PT Indosat Tbk (ISAT) pada rentang Rp 1.725-Rp 1.865. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News