KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan jual yang melanda hampir seluruh sektor saham menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam hingga kembali berada di bawah level psikologis 5.000 pada perdagangan Selasa (3/11/2026). Investor masih dibayangi aksi jual asing, pelemahan rupiah, serta kekhawatiran terhadap potensi perubahan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI. IHSG ditutup anjlok 3,78% atau kehilangan 192,54 poin ke level 4.904,29. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 4.895,60 hingga 5.143,58.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, penurunan IHSG sekaligus menembus level psikologis 5.000 dan area support 4.962. Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor, dengan penurunan terdalam dialami sektor basic materials sebesar 5,69% dan real estate sebesar 5,16%. Tekanan pasar juga diperkuat oleh aksi jual investor asing. Pada sesi I, net sell asing tercatat mencapai Rp 831,55 miliar, terutama pada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Baca Juga: Sentimen Pembobolan Bursa Kripto Binance Masih Tekan Bitcoin dan Ethereum Selain itu, sentimen MSCI menjelang pengumuman Index Review pada 11-12 November 2026 turut menjadi perhatian pelaku pasar. Investor mengantisipasi potensi perubahan bobot saham Indonesia yang dapat memengaruhi aliran dana asing di pasar domestik. Di tengah tekanan tersebut, sejumlah sentimen domestik sebenarnya memberikan penopang. Inflasi Oktober 2026 tercatat melandai menjadi 3,23% secara tahunan, sedangkan neraca perdagangan September membukukan surplus sebesar US$ 3,36 miliar. Namun, kedua sentimen tersebut belum mampu meredam tekanan jual di pasar saham. Memasuki perdagangan Rabu (4/11/2026), Reza menyebut investor akan mencermati hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Konferensi pers hasil rapat tersebut dijadwalkan ulang menjadi pukul 17.00 WIB. Respons pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terhadap tekanan rupiah serta gejolak pasar modal akan menjadi perhatian investor. Dari eksternal, hasil Pemilu Sela Amerika Serikat (AS) berpotensi memengaruhi sentimen risiko di pasar keuangan global. Selain itu, pergerakan harga minyak dunia juga perlu dicermati setelah harga Brent sempat turun lebih dari 7% sebelum kembali naik ke sekitar US$ 105 per barel menyusul laporan eskalasi konflik di kawasan Teluk. Pasar juga menantikan sejumlah rilis data tenaga kerja dan aktivitas ekonomi AS sepanjang pekan ini. Dari sisi teknikal, Reza menilai IHSG telah mengalami breakdown setelah menembus support 4.962. Indeks juga membentuk bearish candle dengan posisi penutupan mendekati level terendah harian.
Baca Juga: Saham Alfamart (AMRT) Dibayangi Pelemahan Rupiah, Ini Prospek dan Target Harganya Indikator MACD masih berada di zona negatif dan bergerak semakin melebar ke bawah. Garis MACD tercatat di level -292, berada di bawah signal line -265. Sementara itu, posisi IHSG juga sudah jauh di bawah moving average (MA) 20 yang berada di level 5.482. "Kondisi ini mengindikasikan tren bearish masih dominan. Support berikutnya berada di 4.830-4.761. Peluang technical rebound tetap ada setelah koreksi tajam, tetapi area 4.962-5.000 kini menjadi resistance yang perlu direbut kembali untuk memperbaiki momentum," jelasnya. Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, penutupan IHSG yang terkoreksi masih sesuai dengan proyeksi teknikal pada perdagangan pagi. Menurutnya, indeks memang masih berisiko melanjutkan pelemahan. "Dari sisi sentimen, kami mencermati pergerakan IHSG dibebani oleh sektor basic materials serta perbankan bigcaps, kemudian dari pergerakan nilai tukar dimana Rupiah masih terdepresiasi thd Dolar AS dan saat ini berada di level Rp 18168/USD," ujar Herditya kepada Kontan, Selasa (3/11/2026). Untuk perdagangan Rabu (4/11/2026), Herditya memperkirakan IHSG berpeluang mengalami technical rebound, meskipun penguatan diperkirakan masih terbatas. Ia memproyeksikan level support IHSG berada di 4.880 dan resistance di 4.914.
"Meski demikian investor perlu mencermati blm ada sinyal pembalikan arah yg relatif valid," tuturnya. Dari sisi sentimen, pelaku pasar diperkirakan masih mencermati pergerakan harga komoditas di tengah perkembangan diplomasi damai AS-Iran menjelang pemilu sela AS atau mid-term election. Rilis data ketenagakerjaan AS juga akan menjadi perhatian investor. Untuk rekomendasi saham, Herditya menyarankan investor mencermati tiga emiten, yakni PT Darma Henwa Tbk (DEWA) pada rentang 254-276, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) pada rentang 650-680, serta PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) pada rentang 6.525-7.275. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News