IHSG Anjlok 4,73% Sepekan, Tekanan Global dan Outlook Moody’s Membayangi Pasar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan tajam sepanjang pekan perdagangan ini. Secara mingguan, IHSG terkoreksi 4,73% dan pada penutupan Jumat (6/2/2026) melemah 2,08% ke level 7.935,26.

Sepanjang pekan ini, pergerakan IHSG cenderung berada dalam tekanan dengan volatilitas yang meningkat. Koreksi lebih dari 2% pada perdagangan terakhir mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang datang secara bersamaan.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, pelemahan IHSG tidak terlepas dari memburuknya sentimen global, terutama akibat aksi jual di sektor teknologi Amerika Serikat yang menekan pasar saham Asia dan emerging markets, termasuk Indonesia.


Baca Juga: IHSG Ambruk 2,08% ke 7.935, Top Losers LQ45: SCMA, BRPT dan MDKA, Jumat (6/2)

“Dari sisi global, koreksi pasar saham dunia dipicu oleh sell-off saham teknologi AS yang menekan indeks regional. Sementara dari dalam negeri, sentimen negatif diperkuat oleh keputusan Moody’s yang menurunkan outlook Indonesia menjadi negatif, meskipun peringkat utang tetap di level Baa2,” ujar Hendra kepada Kontan, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, penurunan outlook tersebut memunculkan kekhawatiran terkait konsistensi kebijakan dan efektivitas tata kelola, sehingga mendorong investor, khususnya asing, bersikap lebih defensif terhadap aset berisiko di Indonesia.

Selain itu, sentimen global lainnya juga datang dari penguatan dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga global setelah bank sentral utama seperti ECB dan Bank of England memilih menahan suku bunga, serta fluktuasi harga komoditas.

“Harga minyak memang sempat rebound, tetapi secara mingguan masih berpotensi mencatat penurunan pertama dalam hampir dua bulan. Sementara logam industri seperti tembaga dan nikel masih bergerak melemah, sehingga menekan saham-saham berbasis komoditas,” jelas Hendra.

Dari sisi teknikal, IHSG saat ini berada di area krusial. Hendra memetakan level support terdekat di kisaran 7.850 hingga 7.900 yang menjadi area psikologis penting untuk menahan tekanan lanjutan.

Baca Juga: IHSG dan Rupiah Tertekan Usai Moody’s Pangkas Outlook Kredit Indonesia

“Jika area ini mampu dipertahankan, peluang technical rebound masih terbuka. Namun resistance terdekat berada di kisaran 8.050 hingga 8.120, dengan resistance lanjutan di sekitar 8.250,” ujarnya.

Untuk pekan depan, IHSG diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi sambil menunggu katalis baru dari global maupun domestik. Peluang rebound tetap ada, namun diperkirakan bersifat terbatas dan lebih teknikal.

“Risiko koreksi lanjutan tetap perlu diwaspadai. Jika IHSG menembus support 7.850, maka ruang pelemahan bisa terbuka menuju area 7.700,” tambah Hendra.

Dari sisi sektoral, ia menilai sektor perbankan syariah, infrastruktur, serta konsumsi defensif berpotensi memimpin penguatan jika pasar mulai stabil, seiring valuasi yang relatif menarik dan karakter bisnis yang lebih tahan volatilitas.

Sebaliknya, sektor teknologi dan saham berisiko tinggi masih perlu diwaspadai karena sentimen global belum sepenuhnya pulih.

Untuk perdagangan awal pekan depan, IHSG diperkirakan dibuka mixed hingga melemah terbatas, seiring pasar masih mencerna sentimen global dan dampak lanjutan outlook Moody’s. Namun peluang technical rebound intraday tetap terbuka apabila tekanan jual mereda sejak awal sesi.

Baca Juga: IHSG Melemah 2,83% ke 7.874 pada Sesi I Jumat (6/2), BRPT, BUMI, MBMA Top Losers LQ45

Dalam strategi investasi, Hendra menyarankan investor tetap selektif dan disiplin. Investor jangka pendek dapat memanfaatkan peluang trading pada saham yang mulai membentuk area bottoming, sementara investor jangka menengah dapat menerapkan strategi buy on weakness pada saham berfundamental kuat dengan manajemen risiko yang ketat.

Beberapa saham yang dapat dicermati antara lain BRIS sebagai speculative buy dengan target di kisaran 2.600, CMRY untuk trading buy dengan target 6.200, serta JSMR sebagai speculative buy dengan target 4.000 seiring potensi pemulihan sektor infrastruktur.

Secara keseluruhan, IHSG saat ini masih berada dalam fase penyesuaian setelah tekanan kuat. Analis menilai pasar membutuhkan waktu untuk membangun kembali kepercayaan, sehingga pendekatan selektif dan fokus pada saham berkualitas menjadi strategi utama di tengah volatilitas yang tinggi.

Selanjutnya: Kinerja Industri Perasuransian Tumbuh 5,95% pada 2025, Aset Tembus Rp 1.201 Triliun

Menarik Dibaca: Hasil BATC 2026 : Menang dari Thailand, Tim Putra Indonesia Melaju ke Semi Final

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: