IHSG Anjlok 8% Efek MSCI, Dana Asing Ratusan Triliun Terancam Kabur



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Usulan MSCI untuk menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia menjadi Standalone Market memicu kepanikan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol hingga mengalami penghentian perdagangan sementara (trading halt) seiring bayang-bayang kaburnya dana asing ratusan triliun rupiah.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG terperosok sangat dalam sekitar 8% ke level 5.392.


Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai, kejatuhan tajam ini adalah cerminan krisis kepercayaan yang berpotensi memicu aksi jual berantai dari para pemodal.

Baca Juga: IHSG Anjlok 11%, Penurunan Harian Terdalam Sejak 1998 Usai Pengumuman MSCI

"Tekanan jual tidak semata-mata ditentukan oleh murah atau mahalnya valuasi saham, tetapi juga oleh meningkatnya premi risiko yang diminta investor untuk menempatkan dananya di Indonesia," ungkap Hendra dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

Kepanikan pelaku pasar sangat beralasan. Potensi arus keluar (outflow) dana asing menjadi risiko utama jika status bursa Indonesia benar-benar didepak dari kategori Emerging Market.

Perubahan klasifikasi ini akan memaksa dana pasif dan manajer investasi aktif yang menggunakan indeks acuan tersebut untuk melakukan penyesuaian portofolio besar-besaran.

Hendra mencatat estimasi potensi outflow berada pada rentang US$ 2,2 miliar hingga US$ 13 miliar.

Dengan asumsi kurs Rp 17.000–Rp 18.000 per dolar AS, angka kerentanan dana asing yang bisa cabut dari pasar saham domestik mencapai Rp 37 triliun hingga Rp 234 triliun.

Tekanan jual paling berat diproyeksikan menghantam saham-saham berkapitalisasi jumbo (big caps), khususnya di sektor perbankan seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Maklum saja, sektor keuangan mendominasi sekitar 71,7% dari bobot MSCI Indonesia Index saat ini.

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memperingatkan bahwa jika penyesuaian portofolio terjadi serentak, tekanan akan sangat terkonsentrasi pada saham-saham perbankan besar yang memiliki bobot indeks signifikan dan kepemilikan asing tinggi.

"Kondisi ini dapat meningkatkan volatilitas dan memperbesar risiko koreksi IHSG, terutama apabila disertai pelemahan rupiah," terangnya kepada Kontan, Jumat (16/10/2026).

Secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini berada di area yang sangat rentan. Pasca trading halt, level 5.318 menjadi support terdekat yang harus dipertahankan.

Namun, Hendra memperingatkan bahwa jika level tersebut gagal menahan tekanan jual secara meyakinkan, IHSG berpotensi melanjutkan koreksinya menuju level psikologis 5.200 sebagai skenario risiko lanjutan.

Baca Juga: IHSG Anjlok 10% Setelah Pengumuman MSCI, Ini Pesan BEI untuk Investor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News