KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan dan turun ke bawah level psikologis 7.000 atau ke level 6.989,43 pada perdagangan Senin (6/4/2026). Kondisi ini mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal serta sentimen negatif yang membayangi pasar. Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, ketidakpastian global masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan IHSG. “Perang AS-Iran mendorong volatilitas pasar dan harga komoditas. Terbaru, Presiden Trump memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, namun ditolak,” katanya kepada Kontan, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, dinamika tersebut memperbesar ketidakpastian di pasar keuangan global dan berdampak langsung terhadap pergerakan IHSG. Dari dalam negeri, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,16% ke Bawah 7.000 di Pagi Ini (6/4), Top Losers LQ45: DSSA, BREN, BRPT Nafan menjelaskan, tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi salah satu penghambat IHSG untuk kembali ke zona positif dalam jangka pendek. “Jika BREN dan DSSA tertekan karena sentimen HSC, hal ini menjadi faktor penghambat IHSG karena kedua saham ini memiliki bobot besar,” jelasnya. Meski demikian, ia melihat adanya potensi katalis positif dari reformasi pasar modal yang tengah dilakukan otoritas. “Penuntasan agenda penguatan transparansi oleh OJK, BEI, dan KSEI diharapkan dapat menjadi katalis positif ke depan,” tambahnya. Sementara itu, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai kondisi pasar saat ini sedang berada dalam fase bearish dengan volatilitas tinggi. “Sekarang bearish dan bervolatilitas tinggi akibat kepanikan pasar seiring kuatnya sentimen risk-off,” ujarnya.
Baca Juga: IHSG Turun Tinggalkan Level 7.000, Top Losers LQ45: DSSA, BREN & MAPI, Senin (6/4) Ia menjelaskan, pelemahan IHSG dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, depresiasi rupiah yang menembus level Rp17.000 per dolar AS, hingga arus keluar modal asing yang masif. Selain itu, kebijakan suku bunga global juga turut menekan pasar. “Sinyal kuat The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama juga memperburuk sentimen,” imbuhnya. Ke depan, Wafi memperkirakan prospek IHSG masih akan tertekan dalam jangka pendek. Pemulihan pasar dinilai sangat bergantung pada meredanya tensi geopolitik serta stabilisasi nilai tukar rupiah. Ia juga melihat potensi pelemahan lanjutan masih terbuka, dengan area support berikutnya berada di kisaran 6.850-6.900.
Dalam kondisi pasar seperti ini, Wafi menyarankan investor untuk bersikap lebih hati-hati. “Strateginya wait and see. Pembelian selektif hanya pada saham defensif dan perbankan big caps jika indeks mulai tertahan di area support,” pungkasnya.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways Selasa (7/4), Simak Proyeksi Analis Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News