IHSG Anjlok Lebih dari 30% Sejak Awal Tahun, Ini Proyeksinya Hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih akan tertekan hingga akhir tahun 2026.

Melansir RTI Kamis (11/6/2026) pukul 14.00 WIB, IHSG ada di level 5.867,42. IHSG sudah turun 18,18% dalam sebulan terakhir dan amblas 32,13% year to date (YTD).

Prasetya Gunadi, Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia mengatakan, dalam waktu dekat IHSG masih dalam tekanan dan bisa bergerak di level 6.000.


Baca Juga: Millennium Pharmacon (SDPC) Incar Penjualan Tumbuh Dua Digit di 2026, Ini Pemicunya

Namun, target HSG di akhir tahun dalam bear case berada di level 6.300, dengan asumsi turun 3% secara tahunan alias year on year (YoY).

“Sementara, target base case ada di level 7.500 dan asumsi pertumbuhan sebesar 2% YoY,” ujarnya kepada Kontan

Prasetya bilang, sektor perbankan dan komoditas menjadi yang paling tertekan akibat sensitivitas suku bunga dan reformasi ekspor satu pintu via Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

”Perbankan akan mengalami tekanan net interest margin (NIM) yang berlanjut karena kenaikan cost of fund (COF) dan loan yield yang cenderung masih dalam tren penurunan,” ungkapnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, valuasi IHSG dinilai sudah kembali menyentuh level krisis.

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim mengatakan, level IHSG saat ini sudah mencapai titik terendah yang pernah dialami Indonesia, yaitu pada saat Pandemi Covid-19.

Baca Juga: Danantara Mulai Pasarkan Obligasi Dolar AS, Tawarkan Yield Hingga 6,3%

Menurut hitungan Shim, P/E IHSG saat ini ada di level 14,6x per April 2026. Sementara, P/E IHSG di bulan April 2020 kala Pandemi Covid-19 sebesar 12,9x.

Level P/E IHSG saat ini juga sudah terdiskon 20% dari MSCI Emerging Market (EM) dan 30% terdiskon dari rerata P/E historis IHSG.

“Menimbang titik terendah secara historis aa di 12,9x, valuasi saat ini bisa menjadi entry point yang menarik,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Namun, valuasi yang menarik ini tak menjamin bisa mendorong investor, khususnya asing untuk kembali masuk ke Indonesia.

Beberapa poin pemberatnya adalah isu investability dari MSCI, depresiasi rupiah, dan ketidakpastian kebijakan. 

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 24.000, Saatnya Beli atau Tunggu Harga Lebih Murah?

“Kami tidak melihat ada resolusi cepat dalam waktu yang dekat. Solusi secara struktural dan jangka panjang dibutuhkan. Kondisi ini pun menyebabkan pasar ekuitas bearish lebih lama,” tuturnya.

Salah satu cara agar pasar kembali percaya terhadap Bursa Tanah Air adalah berhentinya pemerintah bermanuver lebih lanjut dalam mengintervensi pasar.

“Banyak investor yang tidak suka, karena pemerintah tidak seharusnya mengintervensi pasar secara agresif,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News