IHSG Bangkit, Ini Aset Investasi Rekomendasi dari BRI Danareksa



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga hari ini 3 Februari 2026 pukul 13.10 WIB menguat 1,57% di level 8.047,22. Namun IHSG sempat anjlok cukup ekstrem beberapa waktu belakangan. Kondisi yang tak pasti membuat BRI Danareksa Sekuritas menilai, investor dapat beralih ke aset yang bersifat safe haven atau instrumen berpendapatan tetap yang tidak berkorelasi langsung dengan gejolak indeks saham. 

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani mengatakan pilihan instrumen yang paling menarik saat ini adalah emas, Surat Berharga Negara (SBN) ritel dan reksadana pasar uang. 

"Emas menjadi pilihan utama karena fungsinya sebagai pelindung nilai (hedging) di saat ketidakpastian global dan domestik meningkat," kata Chory kepada Kontan, Selasa (3/2/2026).


Baca Juga: Impor India Melonjak, Kenapa Harga CPO Malah Turun?

Sementara itu, SBN Ritel seperti ORI atau sukuk ritel (SR) sangat layak dilirik karena menawarkan imbal hasil tetap yang aman dari risiko gagal bayar, terutama saat volatilitas pasar saham sedang tinggi-tingginya.

Untuk horizon jangka pendek di bawah satu tahun, reksadana pasar uang dan deposito dinilai menjadi pilihan paling bijak karena likuiditasnya yang tinggi dan risiko penurunan nilai yang minimal. 

Lalu untuk jangka menengah antara 1 tahun hingga 3 tahun, instrumen obligasi negara atau SBN Ritel dinilai menjadi pilihan tepat.

"Investor bisa mengunci imbal hasil (yield) yang saat ini masih cukup kompetitif di tengah fluktuasi suku bunga," ujar Chory.

Sedangkan untuk jangka panjang atau di atas 5 tahun, akumulasi pada emas secara bertahap menjadi pilihan klasik yang solid, karena meskipun pasar saham berguncang, nilai aset riil cenderung terus bertumbuh melampaui inflasi dalam jangka panjang.

Dalam konteks potensi imbal hasil, reksadana pasar uang diperkirakan masih akan memberikan return stabil di kisaran 4,5% hingga 5,5% per tahun. Untuk SBN ritel, imbal hasilnya diprediksi berada di rentang 6% hingga 6,5% per tahun, yang mana sangat menarik karena pajak obligasi kini lebih rendah dibandingkan bunga deposito.

Sementara itu, emas memiliki potensi kenaikan (capital gain) antara 10% hingga 15% jika ketidakpastian pasar saham terus berlanjut hingga pertengahan tahun 2026. 

"Instrumen ini bukan sekadar mengejar keuntungan besar, melainkan menjaga agar daya beli modal investor tidak tergerus saat harga saham-saham blue chip sedang rontok," tambahnya.

Baca Juga: Transisi Pimpinan, Jeffrey Hendrik Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI

Di samping itu, bagi investor dengan profil risiko konservatif, prioritas utama adalah keamanan modal, sehingga reksadana pasar uang dan deposito adalah tempat berlindung terbaik. 

Lalu, investor dengan profil moderat bisa mulai membagi portofolionya dengan porsi yang lebih besar pada SBN Ritel atau reksadana pendapatan tetap karena mereka masih bisa menoleransi sedikit fluktuasi demi imbal hasil yang lebih tinggi dari inflasi. 

Sedangkan bagi investor agresif, momen "kebakaran" di pasar saham sebenarnya adalah peluang, namun untuk diversifikasi di luar saham, investor sebaiknya menaruh dana di Emas atau mencoba instrumen derivatif dan komoditas yang menawarkan volatilitas tinggi namun tetap memiliki nilai intrinsik sebagai pelindung portofolio utama.

Selanjutnya: Dukung Perkembangan Industri, Bursa Kripto CFX Turunkan Biaya Transaksi 50%

Menarik Dibaca: Bunga Kompetitif, ORI029 Alternatif Diversifikasi di tengah Volatilitas Pasar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News