IHSG Berada di Fase Konsolidasi, Ini Saham yang Dijagokan Indo Premier Sekuritas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi pada awal pekan ini. Tekanan jual masih membayangi pasar seiring sentimen global dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari mengatakan, pergerakan pasar global sepanjang pekan terakhir diwarnai pengetatan moneter dan meningkatnya risiko carry trade unwind.

“The Fed menaikkan suku bunga 25 bps ke kisaran 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023, dan masih memproyeksikan satu kali kenaikan lagi hingga akhir tahun ke kisaran 4,00%-4,25%,” jelas Brigita dalam keterangan resmi, Senin (21/9/2026).


Baca Juga: Percepatan Realisasi Anggaran MBG Berdampak Positif bagi Emiten Poultry

Bank of Japan (BoJ) juga menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 1,25%, level tertinggi dalam sekitar tiga dekade. Di sisi lain, yield US Treasury 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa sebesar 5,04%.

“Menyempitnya spread suku bunga AS-Jepang mengurangi daya tarik Yen sebagai funding currency, sehingga risiko carry trade unwind dan selective outflow dari emerging markets meningkat,” jelas Brigita.

Tekanan tersebut turut tercermin pada pergerakan IHSG. Sepanjang perdagangan 14-18 September 2026, IHSG terkoreksi 1,53% ke level 6.441,16 dari 6.541,38 pada pekan sebelumnya.

Pelemahan IHSG juga diikuti penyusutan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia sebesar 1,58% menjadi Rp11.266 triliun dari Rp11.446 triliun.

Dari sisi aliran dana, investor asing mencatat net sell sekitar Rp2,9 triliun sepanjang pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (18 September 2026), net sell asing mencapai Rp1,79 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2026, net sell asing telah mencapai Rp74,36 triliun.

Pada perdagangan Jumat, IHSG melemah 0,33% setelah sempat menguat dan menguji level 6.521. Pelemahan terjadi di hampir seluruh sektor, dengan sektor industrial turun 1,64%, property 1,44%, dan healthcare 1,12%. Sementara itu, sektor technology menjadi satu-satunya sektor yang menguat, yakni 0,27%.

Dari sisi komoditas, harga minyak mulai melandai. Harga West Texas Intermediate (WTI) bergerak di sekitar US$100 per barel, sedangkan Brent berada di kisaran US$103-US$104 per barel dengan koreksi harian sekitar 1%-1,5%.

Penurunan harga minyak tersebut didukung oleh pemulihan sekitar 50% kapasitas East West Pipeline Arab Saudi yang sedikit meredakan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.

Sebaliknya, harga emas menguat sekitar 1% dan bertahan di atas US$4.300 per ons. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.

Di dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi kombinasi faktor kebijakan dan teknikal. Suahasil Nazara resmi menjabat Menteri Keuangan menggantikan Purbaya dengan fokus menjaga defisit fiskal di bawah 3%, meski terdapat dorongan dari DPR untuk membahas kembali batas defisit tersebut.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp 10.000 Jadi Rp 2.628.000 per Gram per Senin (21/9/2026)

Sentimen lain berasal dari peringatan S&P Global mengenai risiko kredit dan tekanan laba bank BUMN, kebijakan pemerintah yang mempertahankan mandatori B50 tanpa kenaikan menjadi B60 pada 2027, serta potensi kenaikan BI Rate hingga sekitar 6% pada akhir tahun apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Selain itu, pelaksanaan rebalancing indeks FTSE Russell GEIS turut menjadi perhatian pasar.

“Perubahan indeks berbasis harga penutupan 18 September berlaku efektif pada pembukaan perdagangan 21 September, dengan 29 saham RI dicoret dari indeks dan 10 saham diturunkan ke Micro Cap, sementara normalisasi penuh masih ditunda hingga review Desember 2026. Dengan net sell asing yang masih besar, arah arus dana asing dan stabilitas Rupiah tetap menjadi faktor utama yang perlu dicermati,” ujar Brigita.

Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah MA5 dan MA20. MA5 juga telah membentuk dead cross terhadap MA20 yang mengindikasikan pelemahan jangka pendek. Indikator momentum turut menunjukkan tekanan, dengan MACD yang sebelumnya membentuk dead cross terhadap signal line dan histogram negatif yang semakin melebar.

Tekanan jual juga masih cukup besar dengan volume perdagangan yang relatif tinggi. Meski demikian, IHSG masih bertahan di atas MA60 sehingga tren jangka menengah belum berbalik dan koreksi saat ini masih dapat dibaca sebagai pullback.

“Selama IHSG mampu bertahan di atas 6.370, peluang technical rebound ke area 6.541-6.581 tetap terbuka, dengan MA20 sebagai dynamic resistance,” jelas Brigita.

Sebaliknya, apabila level 6.370 ditembus ke bawah, IHSG berpotensi menguji area 6.200-6.279 yang berada di dekat MA60 sebagai dynamic support.

IPOT memperkirakan IHSG cenderung konsolidasi dengan tekanan jual yang masih dominan pada awal pekan. Adapun level support IHSG berada di 6.200-6.279, sedangkan resistance berada di 6.585-6.633.

Di tengah kondisi tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dan instrumen investasi untuk perdagangan 21-25 September 2026.

Pertama, Buy ANTM dengan area entry Rp3.290-Rp3.320, target harga Rp3.710, dan stop loss Rp3.110. Secara teknikal, ANTM menunjukkan potensi penguatan lanjutan setelah bergerak di atas support MA5 dengan volume di atas rata-rata 20 hari. Tren jangka pendek hingga panjang masih terjaga dan diperkuat indikator MACD yang mengonfirmasi momentum positif.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat pada Senin (21/9) Pagi, Investor Menanti Pertemuan AS-China

Kedua, Buy MTEL pada level Rp500 dengan target harga Rp535 dan stop loss Rp484. MTEL dinilai memiliki struktur teknikal yang solid setelah membentuk pola candlestick Bullish Engulfing dan rebound dari support historis. Konfirmasi tersebut diperkuat AI Trade yang mengindikasikan akumulasi dari smart money.

Ketiga, Buy IMPC pada level Rp1.695 dengan target harga Rp1.825 dan stop loss Rp1.630. Secara teknikal, IMPC kembali bergerak di atas MA5 untuk jangka pendek. Kondisi tersebut diperkuat ADX score 27,3 yang menunjukkan tren bullish kuat.

Selain saham, IPOT juga merekomendasikan Reksa Dana Syariah Premier ETF Gold Sharia Indonesia (XGLD). Produk tersebut dinilai dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di bursa tanpa perlu membeli dan menyimpan emas fisik secara langsung.

Dengan karakteristik yang sesuai prinsip syariah, XGLD dinilai dapat menjadi sarana diversifikasi portofolio sekaligus memanfaatkan potensi emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian dan volatilitas pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News