IHSG berakhir naik, bursa Asia tersengat Samsung



JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu berbalik arah di menit akhir perdagangan, Selasa (11/10). Mengacu data RTI, indeks berakhir naik 0,39% atau 21,169 poin ke level 5.381,997.

Ada 137 saham bergerak naik, 156 saham bergerak turun, dan 101 saham stagnan. Perdagangan hari ini melibatkan 11,1 miliar lot saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 6,80 triliun.

Tujuh dari 10 indeks sektoral menopang laju IHSG. Sektor pertambangan naik 1,79%, barang konsumsi naik 1,10%, dan manufaktur naik 0,77%. 


Sementara, sektor-sektor yang memerah antar lain; perdagangan turun 0,37%, pertanian turun 0,34%, dan industri dasar turun 0,16%.

Hari ini, investor asing cenderung melakukan aksi jual Rp 79,225 miliar di pasar reguler. Sedangkan, keseluruhan aksi jual perdagangan mencapai Rp 207,390 miliar.

Saham-saham yang masuk top gainers LQ45 antara lain; PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) naik 5,06% ke Rp 830, PT Elnus Tbk (ELSA) naik 4,68% ke Rp 492, dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 4,24% ke Rp 11.675.

Saham-saham yang masuk top losers LQ45 antara lain; PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) turun 2,91% ke Rp 10.000, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) turun 2,75 ke Rp 17.700, dan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) turun 2,08% ke Rp 940.

Tersengat Samsung

Di sisi lain pasar saham Asia jatuh, mengalami penurunan terbesar bulan ini seiring Samsung Electronics Co menyeret saham teknologi ke level yang lebih rendah sehingga membayangi reli terkait minyak.

Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,6% ke level 139,68 pada pukul 16:05 sore waktu Hong Kong setelah naik sebanyak 0,3%. Indeks saham teknologi informasi memimpin penurunan, tergelincir 1,5%, sementara ekuitas energi naik 0,6% menyusul harga minyak mentah Brent bertahan di atas US$ 53 per barel. Saham Jepang menguat seiring pelemahan yen untuk hari kedua.

Samsung anjlok 8 persen di Seoul setelah perusahaan meminta mitra ritel untuk menghentikan penjualan dan pertukaran smartphone Galaxy Note 7 nya, menjadi pukulan terbaru untuk perusahaan terbesar Korea Selatan ini di tengah-tengah krisis meledaknya baterai pada produk mereka. 

Minyak mempertahankan keuntungan dekat penetapan tertinggi dalam hampir 15 bulan seiring Rusia dan Arab Saudi mengatakan mereka siap untuk bekerja sama untuk membatasi output, sedangkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada tahun ini naik menjadi 68%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto