IHSG Berbalik Menguat, Waspadai Dead Cat Bounce di Tengah Potensi Outflow Dana Asing



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 5,65% pada perdagangan Selasa (20/10/2026) menjadi sinyal awal pemulihan pasar saham Indonesia setelah mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir.

Meski demikian, investor masih perlu mencermati risiko dead cat bounce atau kenaikan sementara di tengah tren penurunan yang belum berakhir.

IHSG ditutup menguat 5,65% ke level 5.278,89. Namun, kenaikan dalam satu hari perdagangan belum cukup untuk memastikan indeks telah memasuki tren pembalikan arah atau trend reversal.


Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai penguatan IHSG saat ini lebih tepat dikategorikan sebagai technical rebound. Kondisi tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan pergerakan pasar selama sepekan terakhir, tetapi belum mencerminkan pemulihan yang sepenuhnya solid.

Menurut Reza, penguatan indeks didorong oleh aksi beli setelah harga saham terkoreksi dalam, rencana pembelian kembali saham (buyback) sejumlah emiten, serta respons Bursa Efek Indonesia dan otoritas untuk meningkatkan transparansi pasar.

Baca Juga: Direksi BRMS Borong 740.000 Saham pada Oktober 2026, Ini Rinciannya

“Namun, risiko dead cat bounce masih ada karena secara teknikal tren IHSG masih bearish dan MACD menunjukkan momentum negatif yang cukup kuat,” jelas Reza kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).

Reza menambahkan, penguatan IHSG dalam satu hari belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Pasar masih membutuhkan stabilisasi serta tindak lanjut kebijakan yang konkret untuk memulihkan kepercayaan investor.

Senada, Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis mengatakan risiko dead cat bounce masih terbuka apabila kenaikan indeks tidak diikuti perbaikan kepercayaan investor.

“Serta meredanya tekanan jual asing dan kemampuan IHSG bertahan di atas area resistance. Jadi yang perlu diperhatikan penguatan berkelanjutan dalam beberapa sesi berikutnya,” ucapnya.

Indikator Pembalikan Tren IHSG

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan, terdapat sejumlah indikator utama untuk membedakan dead cat bounce dari trend reversal. Indikator tersebut meliputi struktur pergerakan harga, volume transaksi, serta keberhasilan IHSG menembus level resistance.

Dalam kondisi pasar yang volatil seperti saat ini, penguatan selama satu atau dua hari belum cukup untuk memastikan tren telah berbalik. Menurut Nafan, periode sekitar tiga hingga lima hari perdagangan dapat digunakan sebagai observasi awal untuk menilai arah pergerakan indeks.

“Sedangkan 1–2 minggu memberikan gambaran yang lebih kuat mengenai keberlanjutan tren. Namun, ini bukan patokan mutlak karena pembalikan tren bisa membutuhkan waktu yang lebih lama,” kata Nafan.

Ia menilai sinyal pembalikan tren akan lebih meyakinkan apabila IHSG berhasil menembus resistance, bertahan ketika menguji kembali level tersebut (retest), dan mulai membentuk pola higher low, yakni titik terendah harga yang semakin tinggi.

Baca Juga: Menakar Dampak Dikeluarkannya Saham HSC terhadap Pergerakan IHSG

Selain indikator teknikal, pergerakan investor asing juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Pada perdagangan tersebut, investor domestik mencatatkan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp 2,19 triliun. Sebaliknya, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp 2,19 triliun di seluruh pasar.

Tekanan jual asing berpotensi berlanjut seiring ketidakpastian evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia.

Goldman Sachs memperkirakan potensi penghapusan Indonesia dari indeks MSCI Emerging Markets dapat memicu arus keluar dana pasif sebesar US$ 5,6 miliar.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto, dalam risetnya, menilai ketidakpastian terkait evaluasi MSCI masih dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar saham domestik.

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan potensi arus keluar dana pasif dapat mencapai sekitar US$ 3 miliar. Besaran tersebut bergantung pada keputusan final MSCI dan tanggal implementasinya.

Namun, tekanan jual tidak harus menunggu keputusan resmi. Rully menjelaskan bahwa investor aktif dapat lebih dahulu mengurangi eksposur terhadap saham Indonesia apabila menilai risiko pasar meningkat.

Karena itu, Mirae Asset memilih mempertahankan sikap defensif pada tingkat indeks dan mengurangi bobot investasi pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan tingkat kepemilikan asing yang tinggi.

Level Support dan Resistance IHSG

Dari sisi teknikal, Nafan memproyeksikan IHSG berpotensi menguji resistance terdekat di level 5.318 dan 5.522. Sementara itu, area support yang perlu dicermati berada di level 4.785 dan 4.620.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound, Manajer Investasi Cermati Saham Bervaluasi Menarik

Alrich menilai zona 4.900–5.000 menjadi area support penting bagi pergerakan IHSG. Apabila indeks menembus ke bawah zona tersebut, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka.

“Namun selama terjaga di atas 5.000, peluang rebounud lanjutan ke 5.400 sebelum menutup gap 5.800. Secara keseluruhan, pasar masih berada dalam fase awal pemulihan, artinya belum cukup solid,” katanya.

Sementara itu, Reza memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak sangat volatil hingga akhir pekan ini. Menurut dia, investor tidak hanya perlu mencermati peluang penguatan lanjutan, tetapi juga kemampuan indeks bertahan di atas support dan menembus resistance.

Secara teknikal, Reza menempatkan area support IHSG di kisaran 5.000–4.942, dengan level 4.996,61 sebagai titik terendah yang perlu diperhatikan. Adapun resistance terdekat berada di rentang 5.318–5.400.

Area tersebut menjadi target penguatan sekaligus ujian awal bagi keberlanjutan rebound IHSG.

Reza mengatakan peluang pemulihan pasar akan semakin terbuka apabila IHSG mampu menembus level 5.400. Sebaliknya, jika indeks kembali turun hingga menembus 4.942, investor perlu mewaspadai risiko koreksi lanjutan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News