KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona negatif pada perdagangan sesi pertama Rabu (2/9/2026), mengikuti pelemahan mayoritas bursa saham Asia. Mengutip data RTI pukul 12.00 WIB, IHSG turun 0,28% atau 18,495 poin ke level 6.581,448. Sebanyak 326 saham tercatat turun, 265 saham naik, dan 191 saham stagnan. Total volume perdagangan mencapai 33 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,9 triliun.
Baca Juga: Transaksi Kripto Turun, Jumlah Investor RI Justru Naik Menjadi 22,93 Juta Akun Tekanan IHSG terutama datang dari sektor-sektor saham yang melemah. Tujuh indeks sektoral tercatat berada di zona merah. Tiga sektor dengan penurunan terdalam adalah IDX-Basic yang turun 1,79%, IDX-Industry melemah 1,21%, dan IDX-Infrastructure turun 1,06%. Saham LQ45 yang Tertekan Sejumlah saham penghuni indeks LQ45 juga menjadi pemberat IHSG. Tiga saham dengan penurunan terdalam antara lain:
- PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) turun 5,04% ke Rp 1.600.
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) turun 4,32% ke Rp 2.660.
- PT Vale Indonesia Tbk (INCO) turun 3,76% ke Rp 4.860.
Baca Juga: Eagle High (BWPT) Tempatkan Rp 500 Miliar di Surat Utang Danantara, Ini Penjelasannya Namun, sejumlah saham masih mampu menguat dan menahan tekanan IHSG. Tiga saham dengan kenaikan terbesar di LQ45 antara lain:
- PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 3% ke Rp 2.750.
- PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 1,83% ke Rp 26.475.
- PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) naik 1,44% ke Rp 705.
Baca Juga: Garuda Indonesia (GIAA) Gelar RUPSLB 8 Oktober, Ini Kelanjutan Nasib Direktur Niaga Bursa Asia Ikut Tertekan Pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan yang melanda pasar saham negara berkembang Asia. Melansir
Reuters, Indeks MSCI untuk saham negara berkembang Asia turun 1,8% ke level terendah dalam lebih dari sepekan. Indeks KOSPI Korea Selatan dan indeks saham acuan Taiwan masing-masing merosot 3,1% dan 1,3%. Sementara itu, pasar saham Thailand turun 0,4%. Bursa Singapura dan Malaysia relatif bergerak datar. Saham Indonesia sendiri melemah 0,2% setelah sebelumnya sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan Mei. Tekanan pasar saham Asia turut dipengaruhi meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak di tengah eskalasi konflik AS-Iran.
Baca Juga: TRIS Siapkan Dividen Interim Rp7 Miliar, Simak Jadwal Pembagiannya Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi aset berisiko dan meningkatkan perhatian terhadap prospek inflasi serta suku bunga global.
Investor kini menantikan laporan nonfarm payrolls AS yang akan dirilis pada Jumat (4/9). Data ketenagakerjaan tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pasar untuk memperkirakan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), termasuk kemungkinan perubahan suku bunga pada akhir September. Jika data tenaga kerja AS menunjukkan ekonomi masih kuat, tekanan terhadap aset negara berkembang berpotensi berlanjut karena investor dapat kembali memperhitungkan kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News