IHSG Bergejolak, Ekonom InFast Proyeksi Ekonomi Q3 Tumbuh 5,4%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak serta-merta mencerminkan kondisi sektor riil.

Peneliti InFast, Gede Sandra, menilai pasar keuangan dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat bergerak berbeda arah. Ia memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 tetap tumbuh ekspansif sekitar 5,4%.

Gede menyampaikan pandangan tersebut di Jakarta, Senin (2/11), merespons pergerakan IHSG yang sempat turun sekitar 1% pada pembukaan perdagangan hingga menyentuh level di bawah 5.000, sebelum berbalik menguat. Pada pukul 10.30 WIB, IHSG berada di level 5.067.


Menurut Gede, kondisi pasar saham tidak selalu sejalan dengan perkembangan sektor riil. Ia menyebut fenomena ini sebagai decoupling atau perpisahan arah antara Wall Street—yang merujuk pada pasar keuangan—dan Main Street, yakni sektor riil.

Ia mencontohkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diolah untuk periode 2018–2026.

Dalam periode tersebut, jumlah penduduk kelas atas turun dari 1,1 juta menjadi 1,05 juta jiwa. Jumlah kelas menengah menyusut dari 59,5 juta menjadi 42 juta jiwa, sementara kelompok rentan miskin meningkat dari 53,3 juta menjadi 74,8 juta jiwa.

“Pada periode yang sama dengan kejatuhan kelas-kelas ekonomi di masyarakat tersebut, secara tren malah terjadi peningkatan di pasar saham,” ujar Gede, Senin (2/11).

Baca Juga: Sentimen MSCI Bikin IHSG dan Rupiah Rontok, Menko Airlangga: Fundamental Ekonomi Kuat

Ia mencatat IHSG bergerak dari titik terendah 5.756 pada 12 Oktober 2018 menuju titik tertinggi 8.936 pada 9 Januari 2026. Menurut perhitungannya, kenaikan tersebut mencapai sekitar 55%.

Di sisi lain, Gede memperkirakan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 tumbuh sekitar 5,4%. Proyeksi itu terutama ditopang oleh ekspansi kredit perbankan yang mencapai 13,26% pada September 2026, meningkat dari 7,7% pada September 2025.

Kredit investasi tumbuh 23% pada kuartal III-2026, lebih tinggi dibandingkan 15,1% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan kredit modal kerja meningkat dari 3,3% menjadi 11,8%.

Gede menilai, tren tersebut mengindikasikan aktivitas ekonomi masih ekspansif. Sebagai pembanding, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04% pada kuartal III-2025.

Ia juga menyoroti kinerja sektor manufaktur. Indeks PMI manufaktur tercatat 52,4 pada September dan 54,0 pada Oktober 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian pada bulan yang sama tahun sebelumnya, masing-masing 50,4 dan 51,2.

Meski demikian, Gede mengingatkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5% belum cukup untuk membendung penyusutan kelas menengah. Menurut dia, ekonomi perlu tumbuh setidaknya 6% agar kelompok tersebut kembali bertambah.

Ia merujuk pada pengalaman pasca-Reformasi, ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui 6% pada 2007, 2008, 2010, 2011, dan 2012. Pada periode-periode tersebut, rata-rata pertumbuhan kredit perbankan nasional disebut berada di atas 20%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News