IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Senin (26/10), Analis Waspadai Profit Taking



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (26/10), meski investor perlu mewaspadai profit taking. Pelaku pasar juga akan mencermati perkembangan reformasi pasar modal, ketidakpastian terkait MSCI, dan sentimen global yang bisa memengaruhi pergerakan indeks.

Pada perdagangan Jumat (23/10/2026), IHSG ditutup naik 0,95% atau 51,35 poin ke level 5.439,26. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di kisaran 5.366–5.455 dengan mayoritas saham menguat.

Pengamat pasar modal sekaligus founder WH-Project, William Hartanto, memperkirakan IHSG masih bisa menguat secara terbatas. Namun penguatan itu berisiko diikuti aksi ambil untung setelah indeks naik dalam beberapa hari terakhir. Ia memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 5.400–5.500 pada Senin.


Baca Juga: Tarif Internet Rumah Turun 2,2%, Bagaimana Prospek Saham Telekomunikasi?

Meski begitu, investor perlu mencermati arus dana asing yang masih mencatatkan net sell serta ketidakpastian di pasar modal domestik, sehingga pemulihan IHSG belum tentu menandakan tekanan pasar sudah berakhir.

Sementara itu, Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai kelanjutan penguatan IHSG masih dibayangi ketidakpastian MSCI dan perkembangan sentimen global. Secara teknikal, IHSG kembali bertahan di atas level psikologis 5.400, dengan support terdekat di kisaran 5.400–5.366 dan resistance di 5.500–5.540.

Indikator MACD masih berada di zona negatif, meski tekanan pada histogramnya mulai mereda. Artinya, rebound IHSG belum mengonfirmasi pembalikan tren. Jika indeks mampu menembus 5.500 dengan momentum yang menguat, peluang kenaikan lanjutan terbuka. Sebaliknya, penurunan di bawah 5.366 dapat meningkatkan risiko koreksi.

Dari sisi sentimen, investor akan memantau tindak lanjut reformasi pasar modal oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk rencana mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholder Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Di tingkat global, harga minyak mentah Brent naik hingga sekitar US$ 114,39 per barel di tengah eskalasi konflik Timur Tengah, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan volatilitas pasar. Pelaku pasar juga menantikan keputusan suku bunga The Federal Reserve pada 29 Oktober serta konferensi pers Ketua The Fed, Jerome Powell.

Arah kebijakan moneter AS dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, yield obligasi, rupiah, dan arus modal asing. Selain itu, investor perlu mencermati laporan keuangan emiten kuartal III-2026 untuk melihat ketahanan kinerja perusahaan di tengah volatilitas pasar.

Untuk rekomendasi saham, William merekomendasikan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 10.000, serta PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 615.

Sementara itu, Reza merekomendasikan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) untuk dicermati pada perdagangan Senin (26/10/2026).

Baca Juga: Saham Baru Visi Media (VIVA) Bertambah 43 Miliar, Pemegang Saham Terancam Dilusi 72%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News