KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 96,61 poin atau 1,22% ke 8.031,87 pada akhir perdagangan Senin (9/2/2026). Kendati demikian, pergerakan IHSG masih berada dalam tekanan pada awal Februari 2026. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai tekanan tersebut terutama dipicu oleh penurunan
outlook kredit Indonesia serta revisi
outlook sejumlah emiten oleh lembaga pemeringkat Moody’s. "Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor, khususnya investor asing, di tengah persepsi risiko yang masih tinggi," ungkap Reza kepada Kontan, Senin (9/2/2026).
Baca Juga: IHSG Naik di Awal Pekan, Cek Rekomendasi Teknikal: BRIS, BUKA, ICBP, Selasa (10/2) Meski demikian, Reza melihat mulai muncul sejumlah sentimen positif yang berpotensi menjadi penyeimbang tekanan terhadap IHSG. Salah satunya adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia yang tercatat meningkat dan berada di level tertinggi dalam 12 bulan terakhir, mengindikasikan daya beli serta optimisme domestik masih terjaga. Selain itu, agenda pertemuan antara MSCI dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai menjadi katalis penting. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan arah kebijakan terkait
free float, transparansi, serta aspek
investability yang selama ini menjadi perhatian investor global. Sentimen positif juga datang dari kawasan regional. Penguatan pasar Asia yang didorong oleh meredanya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat, serta stabilitas politik di Jepang, turut membantu membaiknya sentimen pasar. Di sisi lain, kenaikan harga emas global juga mendorong meningkatnya minat terhadap saham-saham komoditas emas di pasar domestik.
Baca Juga: IHSG Naik di Awal Pekan, Cek Rekomendasi Teknikal: BRIS, BUKA, ICBP, Selasa (10/2) Di tengah fase ini, Reza menyarankan investor untuk menerapkan strategi yang lebih selektif dan disiplin. Pendekatan defensif dinilai relevan, khususnya melalui saham-saham sektor
consumer defensif yang relatif lebih tahan terhadap volatilitas pasar. Saham komoditas emas juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Dari sisi teknikal, Reza menyampaikan bahwa selama IHSG mampu bertahan di atas area support krusial di kisaran 7.820 - 7.920, maka tren jangka menengah masih tergolong
bullish. Dalam skenario tersebut, IHSG berpeluang melakukan
rebound menuju area resistance 8.100 - 8.200 pada Februari 2026. Namun, Reza tetap mengingatkan risiko koreksi lanjutan apabila IHSG kembali menembus area support tersebut, terutama jika sentimen
risk-off global kembali meningkat.
Untuk saham yang dapat dicermati secara selektif, Reza merekomendasikan beberapa emiten. Saham
HRUM direkomendasikan
buy dengan target resistance Rp 1.080 - Rp 1.145 per saham. Selanjutnya,
buy saham
BRIS dengan target resistance Rp 2.450 - Rp 2.510 per saham. Tak ketinggalan,
buy saham
ARCI dengan target resistance Rp 1.770 - Rp 1.955 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News