IHSG Berpeluang Rebound Senin (5/10), Cermati Saham Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan rebound setelah tertekan sepanjang akhir September hingga awal Oktober 2026.

Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk menandai perubahan tren, mengingat arus dana asing masih keluar cukup besar dan tekanan dari pasar global belum mereda.

Pada perdagangan Jumat (2/10/2026), IHSG naik 0,46% atau 27,39 poin ke level 6.036,89. Meski menguat, IHSG masih mencatatkan penurunan 3,28% dalam sepekan.


Baca Juga: IHSG Diproyeksi Rebound, Simak Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas (30/9)

Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Senin (5/10/2026). Namun, investor tetap perlu mewaspadai tekanan dari arus dana keluar.

"Rebound masih berpeluang berlanjut, tetapi tekanan outflow asing perlu dicermati," ujar Herditya.

Menurut Herditya, pergerakan IHSG pada Jumat berlangsung di tengah kenaikan yield US Treasury dan penguatan rupiah. Penguatan indeks terutama ditopang sektor energi, khususnya saham-saham batu bara.

Untuk perdagangan Senin, Herditya memperkirakan IHSG bergerak pada area support 5.973 dan resistance 6.118.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Rebound, Sejumlah Syarat Ini Jadi Penentu Tren Bullish

Investor juga perlu mencermati sejumlah sentimen eksternal, terutama rilis data Non-Farm Payrolls (NFP) Amerika Serikat (AS), pergerakan yield US Treasury dan dolar AS, serta perkembangan harga minyak dunia di tengah negosiasi antara AS dan Iran.

Herditya merekomendasikan investor mencermati saham GGRM pada rentang Rp17.575-Rp18.250, ISAT di Rp2.400-Rp2.480, dan NCKL pada Rp880-Rp905.

Tekanan Pasar Belum Berakhir

Sementara itu, Analis Republik Investor Hendra Wardana melihat tekanan terhadap IHSG masih cukup berat memasuki kuartal IV 2026. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk menyebut pasar modal Indonesia memasuki era suram secara permanen.

Hendra melihat tekanan yang terjadi saat ini lebih tepat disebut sebagai periode krisis kepercayaan yang diperparah oleh tekanan global.

Salah satu indikatornya adalah net sell investor asing di pasar reguler yang telah mencapai sekitar Rp108 triliun secara year to date.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar bukan hanya berkaitan dengan valuasi saham, tetapi juga menyangkut kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan kepastian kebijakan di Indonesia.

"Tekanan IHSG merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik," kata Hendra kepada KONTAN, Minggu (4/10/2026).

Dari sisi global, yield US Treasury yang masih tinggi membuat aset berbasis dolar AS relatif lebih menarik. Kondisi ini membuat dana global cenderung bertahan di pasar AS atau mengurangi eksposur terhadap negara berkembang.

Baca Juga: IHSG Terkoreksi 3,28% dalam Sepekan, Analis Cermati Peluang Rebound Pekan Depan

Di dalam negeri, rupiah yang berada di sekitar Rp17.888 per dolar AS dan mendekati level psikologis Rp18.000 juga menjadi perhatian. Pelemahan rupiah, ditambah kenaikan harga minyak, berpotensi meningkatkan risiko inflasi serta biaya impor.

Meski demikian, Hendra masih melihat peluang terjadinya technical rebound pada IHSG sepanjang kuartal IV 2026. Namun, pemulihan tersebut belum cukup kuat untuk langsung membawa indeks kembali ke level tertingginya.

Jika tekanan terhadap rupiah mereda, net sell asing mulai mengecil, kinerja emiten kuartal III 2026 solid, dan sentimen global membaik, IHSG berpeluang bergerak ke area 6.300-6.600.

Dalam skenario yang lebih positif, ketika yield US Treasury turun, dolar AS melemah, dan terjadi pembalikan arus dana asing, IHSG bahkan berpeluang menguji level 6.700-6.800.

Sebaliknya, risiko koreksi kembali meningkat jika rupiah menembus dan bertahan di atas Rp18.000, yield global tetap tinggi, harga minyak kembali naik, dan aksi jual asing berlanjut. Dalam kondisi tersebut, IHSG berisiko menguji kembali area 5.800-6.000.

Karena itu, Hendra menilai stabilitas rupiah, arah yield US Treasury, dan perubahan arus dana asing menjadi tiga indikator utama yang perlu diperhatikan investor.

Baca Juga: IHSG Masih Dibayangi Foreign Outflow, Cermati Peluang Rebound

Ia juga mengingatkan investor agar tidak terburu-buru menganggap setiap kenaikan IHSG sebagai awal bull market selama aksi jual asing masih berlanjut.

Dari sisi saham, Hendra merekomendasikan ANTM dengan strategi speculative buy dan target harga Rp3.350. Ia juga merekomendasikan TINS dengan strategi speculative buy dan target Rp 4.900.

Untuk SSIA dan SRTG, strategi yang disarankan adalah buy on weakness. SSIA memiliki kisaran beli Rp 1.620-Rp 1.650 dengan target Rp 1.800, sedangkan SRTG pada Rp 1.680-Rp 1.700 dengan target Rp 2.000 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News