IHSG Berpeluang Uji ke 6.000 Pekan Ini, Tapi Likuiditas Menipis Jadi Risiko



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan penguatan pada akhir pekan lalu, meskipun secara akumulasi mingguan masih berada dalam tren koreksi. Pergerakan ini membuka peluang technical rebound dalam jangka pendek.

Hingga pukul 15.20 WIB, IHSG terlihat masih menguat 0,78% ke 5.921,53 pada perdagangan hari ini.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan, IHSG pada pekan ini berpotensi menguji level 5.900 hingga 6.000. Sentimen global yang mulai membaik serta kondisi teknikal yang sudah memasuki area oversold menjadi pendorong utama penguatan tersebut.


Baca Juga: Rupiah Ditutup ke Rp 17.995 Per Dolar AS Hari Ini (6/7), Sempat Tembus Rp 18.000

“IHSG berpeluang uji 5.900-6.000 didorong sentimen global membaik dan technical rebound dari oversold,” ujar Wafi kepada Kontan, Senin (6/7/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap mencermati kondisi likuiditas pasar. Rata-rata nilai transaksi harian tercatat mengalami penurunan signifikan hingga 36%, yang mencerminkan likuiditas yang menipis dan berpotensi meningkatkan volatilitas pasar.

Menurut Wafi, penguatan yang terjadi saat ini belum dapat dikonfirmasi sebagai awal dari pembalikan tren (trend reversal). Ia menyebut terdapat sejumlah prasyarat yang perlu terpenuhi sebelum IHSG benar-benar berbalik arah.

Rebound belum bisa dikonfirmasi sebagai trend reversal,” jelasnya.

Ia merinci, setidaknya ada tiga indikator utama yang perlu diperhatikan, yakni aliran dana asing (foreign inflow) yang konsisten selama dua hingga tiga pekan berturut-turut, stabilitas nilai tukar rupiah di bawah level Rp17.500 per dolar AS, serta tidak adanya sentimen negatif tambahan terkait MSCI hingga November mendatang.

Dari sisi sentimen, Wafi bilang, masih terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menjadi pemberat pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

Di antaranya adalah tekanan dari isu MSCI, suku bunga acuan Bank Indonesia yang masih berada di level 5,75% sehingga menekan sektor sensitif suku bunga, nilai tukar rupiah yang masih rentan, serta aksi jual bersih oleh investor asing.

“Investor asing masih mencatatkan net sell, ini menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan IHSG,” imbuhnya.

 
BBCA Chart by TradingView

Di sisi lain, maraknya aksi penawaran umum perdana saham (IPO) pada pekan ini juga dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap pasar. Namun, efeknya cenderung terbatas dan lebih bersifat negatif dalam jangka pendek.

Menurut Wafi, aksi IPO berpotensi menyerap likuiditas dari pasar sekunder, sehingga dapat menahan laju penguatan IHSG.

“Dampaknya ke IHSG marginally negative dalam jangka pendek karena ada drain likuiditas dari secondary market,” katanya.

Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Wafi merekomendasikan sejumlah saham unggulan untuk dicermati pada pekan ini, yakni saham perbankan dan energi.

Adapun saham pilihan yang direkomendasikan meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News