KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) ditutup menguat pada perdagangan terakhir, Selasa (17/3/2026). IHSG naik 1,20% ke level 7.106,84, meski secara mingguan masih mencatatkan pelemahan tipis. Analis pasar modal sekaligus Founder Investor, Hendra Wardana, menilai penguatan IHSG lebih mencerminkan kombinasi
rebound teknikal dan mulai meredanya tekanan sentimen global. “Pelaku pasar mulai melakukan akumulasi pada saham-saham yang telah terkoreksi cukup dalam. Penguatan yang merata di berbagai sektor juga menunjukkan adanya pergeseran minat ke saham siklikal,” ujar Hendra kepada Kontan, belum lama ini.
Ia menambahkan, stabilitas nilai tukar rupiah serta kembalinya aliran dana asing, meski masih terbatas, menjadi sinyal awal bahwa tekanan jual mulai mereda.
Baca Juga: IHSG Ambruk 4,49% ke 7.106 Sepekan Jelang Lebaran, Cek Saham Net Sell Terbesar Asing Meski demikian, Hendra menilai penguatan ini belum sepenuhnya mengonfirmasi perubahan tren menjadi bullish. “IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan
sideways hingga menguat terbatas, mengingat pasar global masih menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga The Fed,” jelasnya. Menurutnya, jika bank sentral Amerika Serikat memberikan sinyal
dovish, IHSG berpotensi melanjutkan penguatan ke kisaran 7.200-7.350. Namun, jika tekanan eksternal kembali meningkat, IHSG berisiko menguji support di area 6.900-7.000. Dari sisi domestik, ia melihat aksi
buyback emiten serta potensi kehadiran Danantara sebagai
liquidity provider dapat menjadi penopang pasar dalam jangka pendek. “
Buyback mencerminkan kepercayaan manajemen terhadap valuasi saham, sementara tambahan likuiditas berpotensi meredam volatilitas, meski dampaknya masih terbatas,” katanya. Sementara itu, Pengamat pasar modal sekaligus Founder WH Project, William Hartanto, menilai IHSG mulai menunjukkan tanda-tanda mendekati fase bottoming.
Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga 4,75%, IHSG Berpeluang Rebound Terbatas “Terbentuknya pola doji pada grafik mingguan mengindikasikan adanya keseimbangan antara
buyer dan
seller, serta potensi jenuh jual setelah tren melemah,” ujarnya. Ia menambahkan, level 7.000 saat ini menjadi
support kuat bagi IHSG setelah sempat turun hingga 6.917. Namun demikian, William menilai sentimen negatif sejak awal tahun masih membayangi pergerakan indeks. “Pergerakan IHSG masih berada dalam tren melemah dengan
support di 7.000 dan
resistance di 7.400,” jelasnya. Untuk perdagangan Rabu (25/3/2026), William memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang support 7.085 hingga resistance 7.195. Dalam kondisi tersebut, investor disarankan tetap selektif dengan pendekatan berbasis momentum.
Baca Juga: IHSG Menguat Jelang Libur Lebaran, Waspadai Risiko Usai Cuti Panjang Hendra merekomendasikan beberapa saham yang dapat dicermati, antara lain PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) dengan target Rp1.800, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target Rp2.000, serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan target Rp2.260.
Selain itu, PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) juga dinilai menarik untuk trading jangka pendek dengan target Rp320 per saham. Sementara itu, William merekomendasikan saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dengan target Rp10.000-Rp12.000, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dengan target Rp30.725-Rp31.000, serta PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dengan target Rp9.750-Rp10.000 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News