KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah tertekan sepanjang enam bulan pertama pada 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang bergerak lebih baik pada pada paruh kedua tahun ini. Pada Jumat (26/6), IHSG ditutup di level 5.896,13 atau telah melemah 31,81% sejak awal tahun. Koreksi itu menjadikan IHSG sebagai salah satu indeks saham dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang 2026. Tekanan terhadap pasar saham domestik juga tercermin dari aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 71,68 triliun secara
year to date (ytd). Angka tersebut setara dengan US$ 3,99 miliar.
Baca Juga: BUMN Karya Ada Surat Utang Jatuh Tempo di 2026, Potensi Gagal Bayar? Sepanjang semester pertama, pasar dibayangi beragam sentimen negatif mulai dari kekhawatiran evaluasi status Indonesia oleh MSCI, pelemahan rupiah, kenaikan BI Rate, hingga derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham domestik. Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai prospek IHSG pada semester kedua lebih baik dibandingkan semester pertama. Namun, dia mengingatkan proses pemulihan diperkirakan tidak akan berlangsung secara mulus. "Semester kedua berpotensi lebih baik dibanding semester pertama, tetapi belum tentu mudah karena volatilitas pasar diperkirakan masih cukup tinggi," katanya kepada Kontan, Jumat (26/6). Menurut Liza, peluang rebound semakin terbuka karena sebagian besar sentimen negatif telah tercermin pada valuasi saham. Meski demikian, stabilitas rupiah, kembalinya aliran dana asing, serta kepastian kebijakan pemerintah masih menjadi faktor penentu. "Peluang rebound tetap ada, terutama apabila rupiah semakin stabil, arus dana asing mulai kembali, serta tidak muncul kejutan baru dari kebijakan global maupun domestik," ujarnya. Liza bilang membaiknya kepercayaan investor terhadap tata kelola dan kepastian kebijakan akan menjadi katalis penting bagi IHSG. Sebaliknya, apabila sentimen tersebut kembali memburuk, ruang penguatan indeks akan menjadi lebih terbatas. Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai peluang penguatan IHSG mulai terbuka pada semester kedua. Namun, arah kenaikan indeks diperkirakan berlangsung secara gradual. “IHSG pada semester dua ini berpotensi lebih baik dari semester pertama 2026.
Base case kami adalah
gradual recovery, bukan
V-shape rebound," jelas Wafi. Wafi menjelaskan terdapat sejumlah sentimen yang berpotensi menopang IHSG pada semester kedua. Mulai dari stabilisasi rupiah, peluang penurunan suku bunga, hingga percepatan realisasi belanja APBN. Di sisi lain, investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko yang berpotensi membatasi penguatan IHSG. Ini termasuk ketidakpastian status Indonesia di MSCI, penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan revisi turun proyeksi laba emiten. Wafi memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran 6.000 hingga 6.500 hingga akhir tahun. Dalam skenario optimistis, indeks berpeluang mencapai level 6.500 hingga 7.000 apabila sentimen eksternal dan domestik membaik. "
Bull case kami berada di kisaran 6.500 hingga 7.000 apabila reformasi MSCI berjalan kredibel dan rupiah kembali ke kisaran Rp 16.500 per dolar AS," katanya. Sebaliknya, Wafi memperkirakan IHSG dapat bergerak di kisaran 5.400 hingga 5.600 apabila konsultasi MSCI terkait potensi perubahan status Indonesia menjadi
frontier market benar-benar dikonfirmasi pada November mendatang. Meski demikian, Wafi menilai peluang IHSG turun di bawah level 5.000 masih sangat kecil. Skenario tersebut hanya mungkin terjadi apabila muncul guncangan besar yang memicu kepanikan pasar secara bersamaan. Wafi merekomendasikan investor mencermati saham-saham perbankan secara selektif, energi dan komoditas, konsumer staples, serta telekomunikasi. Sebaliknya, dia menyarankan menghindari saham dengan isu tata kelola tinggi dan utang valas besar. Di sisi lain, Liza memproyeksikan IHSG memiliki peluang bergerak menuju kisaran 7.000 hingga 7.250 pada akhir 2026. Menurutnya, peluang indeks kembali jatuh di bawah level 5.000 relatif kecil tanpa adanya guncangan besar.
"Kami melihat peluang IHSG kembali turun di bawah 5.000 relatif kecil apabila tidak terjadi shock besar yang benar-benar di luar ekspektasi pasar," ucapnya. Liza masih menjagokan saham-saham berfundamental kuat dengan visibilitas laba tinggi. Pilihannya meliputi BBRI, BBCA, BMRI, BBNI, ICBP, INDF, JPFA, CPIN, TLKM, ANTM, MDKA, dan PTBA.
Baca Juga: Dinamika Makroekonomi Global Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News