KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih bergerak fluktuatif dengan potensi
technical rebound terbatas pada perdagangan Selasa (19/5/2026), setelah mengalami tekanan cukup dalam. Pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026), IHSG ditutup melemah ke level 6.599,24. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai penurunan IHSG saat ini tidak lagi sekadar koreksi normal, melainkan mencerminkan krisis kepercayaan investor.
“Kejatuhan IHSG hingga ke level 6.599 bukan lagi sekadar koreksi biasa, melainkan cerminan bahwa pasar sedang memasuki fase krisis kepercayaan yang cukup serius,” kata Hendra kepada Kontan, Senin (18/5/2026). Ia menjelaskan, tekanan terhadap IHSG berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, konflik geopolitik di Timur Tengah, lonjakan harga minyak, penguatan dolar AS, serta kenaikan yield obligasi global menjadi pemicu utama.
Baca Juga: Kinerja Sido Muncul (SIDO) Turun di Awal 2026, Simak Rekomendasi Sahamnya Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp17.600 per dolar AS serta derasnya aksi jual investor asing turut memperburuk sentimen pasar. “Ketika rupiah melemah tajam, asing mencatatkan
net sell besar, dan saham-saham
big caps terus tertekan, maka pasar sedang mengirim pesan bahwa persepsi risiko terhadap Indonesia meningkat tajam,” jelasnya. Secara teknikal, Hendra menyebut posisi IHSG saat ini sudah berada di area
oversold. Namun, peluang penguatan dinilai masih rentan. “
Rebound jangka pendek memang sangat mungkin terjadi karena penurunan indeks sudah terlalu dalam, tetapi masih rawan menjadi
dead cat bounce selama faktor utama tekanan belum selesai,” ungkapnya. Ia menambahkan, sejumlah risiko masih membayangi pasar, mulai dari pelemahan rupiah, kenaikan harga minyak dunia, potensi kenaikan suku bunga global, hingga kekhawatiran perlambatan ekonomi domestik.
Baca Juga: Sejumlah Emiten Cum Dividen di Pekan Ini, Simak Rekomendasi Sahamnya Selain itu, kenaikan yield obligasi Amerika Serikat ke kisaran 4,6% membuat aliran dana global cenderung kembali ke aset
safe haven dibandingkan ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Dari sisi domestik, investor juga mencermati penurunan kualitas likuiditas pasar, aksi jual pada saham-saham konglomerasi, serta ketidakpastian arah kebijakan ekonomi. “Selama IHSG belum mampu kembali bertahan di atas area 6.800-6.900, maka risiko melanjutkan koreksi ke 6.400-6.500 masih terbuka,” tambahnya.
Meski demikian, ia melihat kondisi saat ini mulai membuka peluang bagi investor jangka panjang, seiring valuasi saham yang semakin menarik. “Ketika pasar panik dan valuasi turun signifikan, biasanya peluang investasi justru mulai muncul. Namun, strategi masuk harus selektif dan bertahap,” kata Hendra. Untuk perdagangan Selasa (19/5/2026), Hendra memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran support 6.398 dan resistance 6.600. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News