KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak
volatile dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek, seiring kombinasi tekanan domestik dan global yang masih membayangi pasar. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan pelemahan IHSG menjelang libur panjang mencerminkan tekanan yang terjadi secara bersamaan, baik dari dalam maupun luar negeri. “Dalam jangka pendek, pergerakan IHSG masih berpotensi
volatile dengan kecenderungan
sideways bearish, terutama karena pasar masih berada dalam fase penyesuaian pasca tekanan besar pada saham-saham berkapitalisasi jumbo akibat
rebalancing MSCI Mei 2026,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (17/5/2026).
Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Masih Tertekan Setelah Libur Panjang Secara teknikal, ia menilai level 6.900 menjadi area psikologis penting yang tengah diuji. Jika IHSG gagal kembali bertahan di atas level tersebut, peluang pelemahan lanjutan menuju kisaran 6.600-6.700 masih terbuka. “Namun di sisi lain, koreksi dalam yang terjadi juga mulai membuka peluang
technical rebound, terutama apabila tekanan global mulai mereda dan nilai tukar rupiah kembali stabil,” tambahnya. Hendra menjelaskan, faktor utama yang mempengaruhi IHSG saat ini berasal dari arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, serta minimnya sentimen positif dari domestik. “Pasar saat ini masih minim sentimen positif kuat sehingga IHSG cenderung lebih sensitif terhadap tekanan eksternal,” jelas dia. Di sisi lain, dampak rebalancing MSCI menjadi salah satu pemicu utama tekanan di pasar dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah saham besar seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT yang keluar dari indeks MSCI berpotensi mengalami tekanan jual signifikan. “Penghapusan saham-saham tersebut dari indeks MSCI Global Standard berpotensi memicu
residual passive selling yang diperkirakan mencapai sekitar Rp 18,5 triliun pada akhir Mei,” ungkapnya.
Baca Juga: MSCI Masih Freeze, Saham Konglomerat Dituntut Punya Cerita Baru Ia menambahkan, tekanan terbesar berasal dari mekanisme keluarnya dana pasif global yang harus menyesuaikan portofolio mengikuti komposisi indeks. “Akibatnya, saham-saham yang mengalami
deletion menghadapi tekanan jual mekanikal yang sangat besar tanpa mempertimbangkan valuasi maupun fundamental jangka pendek,” katanya. Tekanan terhadap saham-saham tersebut dinilai masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, terutama menjelang tanggal efektif rebalancing pada akhir Mei 2026. “Risiko terbesar bukan hanya penurunan harga, tetapi juga tingginya volatilitas akibat
free float yang relatif terbatas pada beberapa saham tersebut,” imbuh Hendra. Dengan kondisi tersebut, investor ritel disarankan untuk lebih mengedepankan manajemen risiko dibandingkan agresif memburu saham yang tengah tertekan. “Strategi yang paling relevan adalah selektif dan defensif, dengan mengutamakan emiten yang memiliki fundamental kuat,
cash flow sehat, serta struktur keuangan yang solid,” ujarnya. Ia menyarankan investor melakukan akumulasi secara bertahap melalui strategi
buy on weakness dan
dollar cost averaging, serta tetap menjaga porsi kas agar lebih fleksibel menghadapi volatilitas pasar. Di tengah dinamika pasar saat ini, sektor perbankan dinilai masih menarik, terutama saham-saham blue chip seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI yang memiliki likuiditas tinggi dan fundamental kuat. Selain itu, sektor
consumer staples dan telekomunikasi juga masih layak dicermati karena cenderung defensif. Emiten seperti INDF, ICBP, UNVR, KLBF, serta TLKM dinilai memiliki ketahanan bisnis yang baik di tengah tekanan pasar.
Untuk sektor lainnya, saham seperti ASII, UNTR, dan PGAS juga masih menarik karena ditopang diversifikasi bisnis dan pendapatan yang relatif stabil. Sementara itu, saham sektor kesehatan seperti MIKA dan SIDO berpotensi menjadi kandidat
re-entry ketika tekanan pasar mulai mereda. Secara keseluruhan, Hendra menilai kondisi pasar saat ini lebih cocok untuk strategi akumulasi bertahap pada saham-saham berkualitas. “Pasar saat ini bukan untuk mengejar saham dengan volatilitas ekstrem, tetapi lebih ke arah membangun posisi secara bertahap pada saham yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas baik,” tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News