IHSG Berpotensi Sideways Jelang RDG BI, Simak Rekomendasi Saham



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih melanjutkan penguatan pada awal pekan ini, seiring berlanjutnya tren positif dalam beberapa waktu terakhir.

Pada Senin (20/7/2026), IHSG ditutup menguat 56,24 poin atau 0,91% ke 6.231,78. Penguatan IHSG ini melanjutkan reli yang terjadi di bursa saham Indonesia pada pekan lalu, dengan IHSG melonjak 4,24% sepekan.

“Untuk jangka pendek, IHSG cenderung bergerak sideways to mildly positive dengan bias wait and see menjelang RDG Bank Indonesia,” kata Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi kepada Kontan, Senin (20/7/2026).


Ia memperkirakan, level support IHSG berada di 6.200, sementara resistance di kisaran 6.350 hingga 6.400.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Terbatas pada Selasa (21/7), Cek Rekomendasi Analis

Menurut Wafi, tren kenaikan IHSG masih berpotensi berlanjut, namun ruang penguatannya relatif terbatas dalam jangka pendek.

“Tren naik masih bisa berlanjut, tetapi upside terbatas jelang RDG. Jika BI menahan suku bunga atau bersikap dovish, IHSG berpotensi melanjutkan reli ke atas 6.400. Namun jika kembali menaikkan suku bunga, penguatan bisa tertahan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia bilang, terdapat sejumlah sentimen yang berpotensi menjadi pemberat laju IHSG dalam waktu dekat. Di antaranya adalah ketidakpastian hasil RDG BI pada 22 Juli, faktor global seperti MSCI, serta kondisi nilai tukar rupiah yang masih rentan meskipun berada di bawah Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

Selain itu, karakter dana asing jangka pendek (hot money) yang cenderung cepat keluar juga menjadi risiko tersendiri bagi pasar.

Hot money ini sifatnya rapuh dan bisa berbalik arah dengan cepat,” tambahnya.

Di tengah kondisi tersebut, Wafi mengatakan, sejumlah sektor masih menarik untuk dicermati investor.

Ia menyebut, sektor perbankan tetap prospektif secara selektif, khususnya bank dengan rasio dana murah (CASA) yang tinggi, meskipun tetap perlu mencermati potensi tekanan pada margin bunga bersih (NIM).

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah, Terseret Investasi Domestik yang Lesu dan Konflik Iran-AS

Selain itu, sektor energi dan komoditas dinilai menarik karena memiliki fungsi lindung nilai alami (natural hedge) serta didukung katalis domestik seperti kebijakan domestic market obligation (DMO).

“Sektor konsumer staples juga masih menarik karena relatif defensif,” imbuhnya.

Ia juga menekankan pentingnya memilih saham dengan free float yang baik serta minim risiko kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi (HSC).

 
BBCA Chart by TradingView

Untuk rekomendasi jangka pendek, Wafi menjagokan sejumlah saham unggulan.

Di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News