KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal Oktober 2026 masih dibayangi tekanan jual. Meski menguat pada perdagangan terakhir pekan ini, analis menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bearish. IHSG ditutup menguat 0,46% atau 27,39 poin ke level 6.036,89 pada perdagangan Jumat (2/10/2026). Namun, dalam sepekan terakhir, IHSG masih terkoreksi sekitar 3,28%.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai penguatan IHSG pada perdagangan Jumat masih mencerminkan technical rebound setelah tekanan jual yang cukup signifikan dalam beberapa sesi sebelumnya. "Dalam sisi domestik, investor masih mencermati dampak reshuffle kabinet dan perkembangan implementasi kebijakan pasar, termasuk transaksi short selling. Selain itu, aksi jual investor asing juga masih menjadi perhatian setelah mencatatkan net sell sekitar Rp240 miliar pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Sementara dari sisi eksternal, kenaikan harga minyak di tengah meningkatnya tensi Amerika Serikat (AS)-Iran serta tingginya yield US Treasury turut membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset di pasar negara berkembang." Ujar Reza kepada Kontan (2/10/2026).
Baca Juga: Astra International Bagikan Dividen Interim Rp98 per Saham, Ini Jadwalnya Secara teknikal, Reza menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bearish. Area 6.000 menjadi support psikologis penting yang perlu diperhatikan investor. Jika level tersebut tidak mampu dipertahankan, support berikutnya berada di sekitar 5.850. Sementara itu, level resistance IHSG berada di kisaran 6.185-6.240. Menurut Reza, IHSG perlu kembali menembus area resistance tersebut untuk memberikan konfirmasi bahwa tekanan jual mulai mereda sekaligus membuka peluang technical rebound yang lebih kuat. Untuk perdagangan jangka pendek, Reza menyarankan investor mencermati sektor energi dan komoditas. Sejumlah saham yang dapat diperhatikan antara lain PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
IHSG Pekan Depan Berpotensi Sideways
Di sisi lain, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memperkirakan IHSG berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan menguat pada pekan depan.
Baca Juga: Turun Rp 2.000, Harga Emas Antam Hari Ini, Sabtu (3/10), Rp 2.574.000 Per Gram Alrich memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam kisaran 6.000-6.200 pada perdagangan pekan depan. Dari sisi teknikal, Alrich menjelaskan bahwa indikator Stochastic RSI telah membentuk golden cross di area oversold. Namun, histogram MACD masih berada di area negatif. IHSG juga telah ditutup di atas MA3. Kondisi tersebut menunjukkan adanya peluang penguatan lanjutan, meski investor masih perlu mencermati sejumlah indikator teknikal dan sentimen pasar yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG. Selain faktor teknikal, perhatian investor pada pekan depan akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi domestik.
Data cadangan devisa Indonesia dijadwalkan dirilis pada Rabu (7/10/2026). Selanjutnya, indeks keyakinan konsumen akan menjadi perhatian pada Kamis (8/10/2026). Sementara pada Jumat (9/10/2026), pasar akan mencermati data penjualan ritel dan penjualan otomotif. Rangkaian data tersebut berpotensi menjadi katalis bagi pergerakan IHSG sekaligus memberikan gambaran mengenai kondisi perekonomian dan daya beli domestik pada periode mendatang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News