IHSG Berpotensi Uji Level 6.000, Pasar Dibayangi Sentimen BI hingga MSCI



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tren pelemahan dan berpotensi melanjutkan koreksi dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini mencermati kemungkinan IHSG kembali turun ke bawah level psikologis 6.000.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai IHSG berpeluang menguji level 6.000 dalam waktu dekat, dipicu oleh kombinasi sentimen domestik dan global.

“IHSG berpotensi menguji level 6.000 dalam jangka pendek karena tiga faktor utama, yakni pergantian Gubernur BI yang menambah lapisan ketidakpastian, kebijakan tarif dari Donald Trump yang memicu risk-off global, serta rebalancing MSCI Agustus yang berpotensi menciptakan tambahan passive outflow,” ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (30/7/2026).


Menurutnya, IHSG memiliki area support kuat di kisaran 5.950-6.000. Jika level tersebut ditembus, indeks berpotensi melanjutkan pelemahan ke area 5.750-5.850.

Meski demikian, peluang rebound tetap terbuka. Hal ini dapat terjadi apabila pemerintah segera mengumumkan Gubernur Bank Indonesia definitif dengan figur yang kredibel, serta hasil rebalancing MSCI tidak seburuk ekspektasi pasar.

Baca Juga: Astra Agro Lestari (AALI) Catat Kenaikan Kinerja per Semester I 2026

Dari sisi sentimen global, kebijakan tarif yang kembali digaungkan oleh Donald Trump turut meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor cenderung menghindari aset berisiko.

Sementara itu, pada Agustus 2026, pasar juga akan mencermati agenda rebalancing indeks oleh MSCI. Meski Indonesia masih berstatus freeze untuk penambahan saham baru, potensi keluarnya sejumlah saham dari indeks tetap terbuka.

Wafi menjelaskan terdapat empat kategori saham yang berpotensi keluar dari indeks MSCI. Pertama, saham dengan probabilitas tinggi untuk dikeluarkan, seperti GOTO, yang telah berada di level harga Rp50 per saham (gocap) sejak Mei sehingga menimbulkan masalah likuiditas dalam replikasi indeks.

“Probabilitas eksklusi GOTO di atas 75% karena isu likuiditas yang secara eksplisit sudah disoroti MSCI,” jelasnya.

Kedua, saham dalam kategori high shareholding concentration (HSC) yang telah diidentifikasi MSCI untuk pengurangan bobot atau penghapusan. Ketiga, emiten yang membutuhkan penyesuaian free float akibat perubahan kepemilikan saham publik. Keempat, saham dengan likuiditas yang turun drastis di bawah ambang batas minimum MSCI.

Baca Juga: Prospek Obligasi Pemerintah dan Saham Dianggap Masih Menarik bagi Investor

Ia menegaskan bahwa status freeze hanya berlaku untuk penambahan saham baru, sementara pengurangan bobot maupun penghapusan saham dari indeks tetap berjalan normal.

Di tengah tekanan tersebut, Wafi menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham, dengan fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan visibilitas kinerja yang baik.

Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain BBCA, BMRI, ADRO, PTBA, serta INDF.

Sebaliknya, investor disarankan menghindari saham yang masuk kategori HSC maupun emiten dengan likuiditas rendah seperti GOTO.

“Strateginya adalah melakukan akumulasi secara bertahap, jangan langsung all-in sebelum ada kepastian terkait Gubernur BI definitif dan hasil MSCI tidak lebih buruk dari ekspektasi,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News