IHSG Dibayangi Ancaman Turun Kelas dan Data Inflasi AS, Cermati Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan masih menghadapi tekanan dari kombinasi sentimen domestik dan global.

Di dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada hasil pertemuan antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI), yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar saham Indonesia.

Seperti diketahui, Indonesia bersama Turki telah masuk dalam daftar pantauan S&P DJI.


Penyedia indeks global tersebut membuka peluang untuk menurunkan status pasar modal Indonesia dari kategori emerging market menjadi frontier market, sehingga memicu sikap wait and see di kalangan investor.

Baca Juga: IHSG Diperkirakan Masih Bergerak Volatil, Saham Apa yang Jadi Rekomendasi Analis?

Dari sisi eksternal, pasar juga menanti rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Juni 2026 yang dijadwalkan pada Selasa (14/7/2026).

Sebelumnya, inflasi AS pada Mei 2026 meningkat menjadi 4,2% secara tahunan dari 3,8% pada April, sehingga berpotensi memengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, IHSG masih mampu bertahan di zona hijau. Hingga penutupan perdagangan Jumat (10/7), IHSG menguat tipis 0,2% ke level 5.924,36. Dalam sepekan, indeks mencatat kenaikan sebesar 0,53%.

Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, dalam jangka pendek IHSG masih berpeluang bergerak terbatas atau sideways.

Selain menunggu perkembangan dari S&P DJI, pasar juga akan mencermati meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Positif di Juli 2026, Obligasi dan Reksadana Tetap Layak Dikoleksi

Menurut Hendra, eskalasi konflik tersebut berpotensi meningkatkan premi risiko pasar, terutama apabila mengganggu pasokan energi global melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG bergerak volatil dengan kecenderungan sideways hingga bearish sepanjang pekan ini.

Secara teknikal, Kiwoom memperkirakan IHSG memiliki area resistance pada kisaran 5.950 hingga 5.987. Namun, apabila indeks menembus ke bawah level 5.900, tekanan jual berpotensi membawa IHSG menguji area support di rentang 5.839 hingga 5.805.

Kiwoom juga menilai tekanan terhadap IHSG bukan hanya berasal dari faktor geopolitik global, tetapi juga dari derasnya arus keluar dana asing yang masih membayangi pasar saham Indonesia.

Meski demikian, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus praktisi pasar modal Budi Frensidy melihat masih ada sejumlah faktor yang dapat menopang pergerakan IHSG.

Baca Juga: Prospek Saham Tambang Logam Masih Cerah, Ini Rekomendasi Analis

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih terjaga di atas 5%, valuasi saham yang semakin menarik, kinerja emiten berkapitalisasi besar yang tetap solid, serta kenaikan harga komoditas global yang menguntungkan sektor energi dan pertambangan dapat menjadi penopang pasar.

Budi menyarankan investor tidak terburu-buru mengejar kenaikan harga saham dalam jangka pendek. Ia menyarankan strategi akumulasi secara bertahap dengan fokus pada emiten yang memiliki fundamental kuat.

"Dalam situasi seperti sekarang, pemilihan saham lebih penting daripada sekadar menebak arah IHSG," ujar Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News