KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih berpotensi menghadapi tekanan hingga akhir 2026 seiring kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang ketat. Kenaikan suku bunga The Fed dan peluang kenaikan lanjutan menjadi sentimen yang perlu dicermati investor, terutama melalui pergerakan imbal hasil US Treasury, rupiah dan aliran dana asing. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps) masih menjadi salah satu tekanan bagi IHSG. Kondisi tersebut diperberat apabila yield US Treasury tenor 10 tahun bertahan di atas 5%.
Baca Juga: Rupiah Spot Menguat 0,16% ke Rp 17.729 per Dolar AS pada Jumat (18/9) Pagi “Kenaikan suku bunga acuan The Fed 25 bps dan peluang kenaikan lanjutan masih menjadi tekanan untuk IHSG, terutama lewat yield US Treasury 10 tahun di atas 5%, rupiah dan
foreign flow,” ujar Liza dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026). Menurut Liza, hingga akhir tahun IHSG masih akan bergerak volatil dengan aliran dana asing yang cenderung
mixed-to-negative.\ Kiwoom Sekuritas masih mempertahankan target IHSG 2026 di rentang 7.250-7.700, tetapi kondisi pasar saat ini membuat Liza mengambil pandangan yang lebih konservatif. “Sampai akhir tahun saya masih melihat IHSG volatile dengan
flow asing
mixed-to-negative. Target Kiwoom 2026 sementara tetap 7.250-7.700, tapi dengan kondisi sekarang saya lebih konservatif ke asal bisa tutup di kepala 7 saja, up to 7.200,” jelasnya. Liza menambahkan, Kiwoom belum terburu-buru merevisi target resmi tersebut selama rupiah dan risiko
sovereign masih berada dalam kondisi terkendali.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 25.000 Jadi Rp 2.623.000 per Gram, Jumat (18/9) Di tengah lingkungan suku bunga tinggi, sejumlah sektor dinilai lebih rentan menghadapi tekanan. Sektor properti,
consumer discretionary dan emiten dengan tingkat leverage tinggi berpotensi terbebani karena biaya pendanaan meningkat. Sebaliknya, bank besar, telekomunikasi,
consumer staples, energi dan komoditas serta saham dengan arus kas kuat relatif lebih defensif. “Rotasi menurut saya akan lebih ke
quality dan
earnings visibility, bukan sekadar mengejar
growth story,” kata Liza. Menurut dia, kondisi tersebut juga sejalan dengan positioning Kiwoom yang mengutamakan sektor
banks, telco, consumer, energy dan
infrastructure. Dari sisi kinerja emiten, perusahaan dengan
leverage rendah,
pricing power dan
recurring cash flow dinilai memiliki kemampuan lebih baik untuk bertahan di tengah kondisi suku bunga tinggi. Sementara perusahaan yang memiliki beban utang besar perlu lebih disiplin dalam mengelola belanja modal,
refinancing dan modal kerja.
Baca Juga: Harga Minyak Stabil pada Jumat (18/9) Pagi, Seiring Meredanya Kekhawatiran Inflasi Memasuki 2027, ruang perbaikan kinerja emiten dinilai lebih terbuka apabila inflasi Amerika Serikat mulai melunak dan siklus suku bunga berbalik. Kondisi tersebut dapat menurunkan
cost of capital sekaligus membantu pemulihan permintaan. Untuk investor, Liza menyarankan pendekatan
quality first dalam menghadapi era suku bunga tinggi. Investor perlu memperhatikan kesehatan neraca, kualitas laba, valuasi dan likuiditas saham.
“Di era suku bunga tinggi saya lebih pilih
quality first: balance sheet sehat,
earnings nyata, valuasi masuk akal dan likuiditas baik,” ungkapnya. Liza juga menyarankan investor menghindari saham dengan
leverage tinggi,
free float rendah serta
growth story yang belum didukung
earnings. Strategi investasi sebaiknya tidak terlalu agresif mengejar kenaikan pasar, melainkan melakukan akumulasi secara bertahap ketika valuasi dan
risk-reward sudah menarik. Dari stock picks Kiwoom dalam Market Outlook Semester II-2026, sejumlah saham yang dinilai masih relevan dengan kondisi saat ini antara lain PT Antam (Persero) Tbk (ANTM) dengan target harga Rp 4.800, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Rp 970, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Rp 4.100, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Rp 3.600, PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) Rp 3.850 serta PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) Rp 2.700. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News