KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 10.000 pada akhir 2026 dinilai cukup realistis, meski bukan menjadi skenario dasar. Target tersebut disebut masih masuk akal dalam kondisi pasar yang bullish dan ditopang oleh pemulihan likuiditas domestik serta re-rating saham-saham berkapitalisasi besar. Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menilai, target IHSG 10.000 atau naik sekitar 16% secara tahunan merupakan hasil kombinasi sejumlah faktor struktural, terutama dari dalam negeri. “Target IHSG menuju 10.000 di akhir 2026 dinilai cukup realistis dalam skenario
bullish. Namun, ini bukan
base case, melainkan didukung oleh pemulihan likuiditas domestik, reform struktural pasar modal, serta potensi
re-rating saham
big caps, khususnya perbankan,” ujar Sukarno kepada Kontan, Jumat (2/1/2026).
Baca Juga: IHSG Diprediksi Sentuh 10.000 di Akhir 2026, Pengamat: Ambisius tapi Masih Realistis Dari sisi makro, Sukarno menilai Indonesia berada pada posisi yang relatif lebih kuat dibandingkan negara berkembang lainnya. Disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3%, inflasi yang terjaga, serta kebijakan moneter yang mulai akomodatif menjadi penopang utama stabilitas pasar. “Meski proses pelonggaran global berjalan lebih lambat dan volatilitas masih tinggi, Indonesia cukup resilien dibandingkan
emerging market peers,” katanya. Ia menambahkan, pendorong utama IHSG pada 2026 tidak semata datang dari faktor global, melainkan justru berasal dari likuiditas domestik. Injeksi likuiditas ke perbankan, berbagai insentif Bank Indonesia, serta kewajiban penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) dinilai memperkuat basis dana dan mendorong pertumbuhan kredit. “Likuiditas domestik menjadi motor utama pasar. Di sisi lain, reform pasar modal seperti kenaikan
free float, kehadiran
market maker, pengetatan IPO, hingga implementasi UU P2SK meningkatkan kualitas dan daya tarik pasar saham Indonesia,” jelas Sukarno. Sementara itu, tekanan global seperti perlambatan China, tekanan fiskal negara maju, hingga risiko yen
carry trade masih berpotensi memicu volatilitas. Namun, menurut Sukarno, dampaknya cenderung bersifat jangka pendek dan tidak mengubah arah tren pasar secara struktural.
Baca Juga: IHSG Menguat 22,13% Sepanjang 2025, Ini Saham Paling Banyak Dibeli Asing Dari sisi sektoral, Kiwoom Sekuritas menempatkan perbankan besar sebagai tulang punggung utama penguatan IHSG pada 2026. Pemulihan kinerja dan peluang
re-rating valuasi menjadi katalis utama sektor ini. Selain itu, sektor telekomunikasi dan infrastruktur dipandang sebagai penopang stabil berkat efisiensi operasional dan aksi korporasi. “Sektor
consumer non-cyclical dan
healthcare berperan defensif di tengah ketidakpastian global, sementara sektor energi dipilih secara selektif, terutama emiten yang memiliki ekspansi aset dan dukungan kebijakan,” ujarnya. Adapun saham unggulan Kiwoom Sekuritas untuk 2026 antara lain
BBCA,
BBRI,
TLKM,
ASII,
JPFA,
KLBF, dan
ENRG. Saham-saham tersebut dinilai mencerminkan kombinasi stabilitas indeks, likuiditas kuat,
yield yang menarik, serta potensi pertumbuhan moderat. Meski prospek pasar dinilai konstruktif, Sukarno tetap mengingatkan investor untuk mencermati risiko eksternal, mulai dari volatilitas global, potensi
fiscal shock, hingga perlambatan ekonomi China. “Risiko tersebut lebih bersifat
noise dibandingkan penghalang tren. Strategi yang relevan adalah selektif dan bertahap, fokus pada saham
index-worthy dan
big caps dengan likuiditas kuat, dipadukan sektor defensif,” katanya.
Ia menambahkan, pendekatan
buy on volatility dan
dollar cost averaging (DCA) dinilai lebih tepat dibandingkan strategi agresif mengejar momentum pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News