KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) ditutup anjlok signifikan pada akhir perdagangan Kamis (23/4/2026), seiring meningkatnya tekanan dari sentimen global dan domestik. IHSG turun 163 poin atau 2,16% ke level 7.378,60, di tengah aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp 978,73 miliar. Tekanan pasar dipicu kombinasi ketidakpastian geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Terbatas Jelang RDG BI, Cek Saham Rekomendasi Analis Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menjelaskan bahwa perpanjangan gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum mampu meredakan kekhawatiran pasar, sehingga harga minyak dunia tetap tinggi dan membebani sentimen investor. Dari sisi domestik, rupiah kembali melemah dari kisaran Rp 17.000 per dolar AS menuju Rp 17.300 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, tekanan eksternal, serta arus keluar modal asing dari pasar keuangan Indonesia. "Tekanan pada mata uang juga turut mempengaruhi sentimen investor di pasar saham,”" ujar Reza, Kamis (23/4/2026).
Baca Juga: Tekanan Terhadap IHSG Diproyeksi Masihi Berlanjut, Cek Saham Rekomendasi Analis Sementara itu, VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi, menilai pergerakan IHSG pada Jumat (24/4) masih akan dibayangi dua faktor utama, yakni perkembangan komunikasi antara AS dan Iran yang berjalan lambat serta potensi berlanjutnya aksi jual asing. Kondisi ini diperburuk oleh sentimen penyesuaian indeks MSCI dan penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Fitch menjadi negatif. "Investor akan menyesuaikan alokasi pada saham di Indonesia," jelas Audi. Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan.
Baca Juga: Menanti Putusan BI, IHSG Masih Rawan Tekanan Cek Saham Rekomendasi Analis Audi memproyeksikan indeks bergerak di rentang support 7.245 dan resistance 7.558, dengan indikator MACD dan RSI yang menunjukkan sinyal penurunan serta volume transaksi yang masih tinggi.
Senada, Reza memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju area support berikutnya di kisaran 7.305–7.300. Level ini dinilai krusial untuk menguji kekuatan pasar dalam jangka pendek, dengan resistance terdekat berada di rentang 7.460–7.500. Di tengah kondisi tersebut, ia merekomendasikan saham ENRG, ELSA, dan MYOR sebagai pilihan yang dapat dicermati investor. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News