KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) diperkirakan bergerak terbatas pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Sekedar mengingatkan, IHSG ditutup melemah 16,80 poin atau 0,25% ke 6.619,67 pada akhir perdagangan Senin (7/9/2026). Sebanyak 281 saham naik, 332 saham turun, dan 179 saham stagnan. Total volume perdagangan saham di bursa hari ini mencapai 36,44 miliar saham, dengan total nilai Rp 13,54 triliun.
Baca Juga: Cek Prospek dan Rekomendasi Emiten yang Akuisisi Aset Tambang di Luar Negeri Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, pergerakan IHSG hari ini sejalan dengan mayoritas pergerakan bursa global dan regional Asia yang terkoreksi. “Diperkirakan rilis data
nonfarm payroll (NFP) menguat dan membuat perkiraan The Fed cenderung
hawkish ke depannya,” ujarnya kepada Kontan, Senin (7/9/2026). Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, tekanan IHSG hari ini datang dari saham-saham
big caps, khususnya sektor keuangan seperti
BBCA,
BBRI, dan
BMRI. Di sisi lain, sektor kesehatan dan energi masih mampu menjadi penopang indeks. Selain itu, sentimen terkait erupsi Gunung Anak Krakatau dan bencana juga menjadi perhatian pasar, terutama terhadap saham-saham sektor kesehatan. “Dari sisi domestik, kenaikan cadangan devisa Indonesia menjadi US$146,5 miliar pada Agustus juga menjadi sentimen positif karena menunjukkan kondisi eksternal Indonesia masih cukup kuat,” ujarnya kepada Kontan, Senin. Herditya memperkirakan, koreksi IHSG pada perdagangan Selasa (8/9/2026) cenderung terbatas dan berpeluang menguat dengan support di level 6.603 dan resistance di 6.632.
“Besok akan ada rilis data neraca dagang China dan diperkirakan investor masih mencermati akan Timur Tengah dan juga dampak dari beberapa kejadian bencana di Indonesia,” tuturnya. Reza berpandangan, memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 6.600–6.700, dengan support di 6.600 dan resistance di 6.700 pada Selasa besok. Sentimen yang akan menjadi perhatian berikutnya adalah Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat (AS) pada 11 September, sehingga pelaku pasar kemungkinan cenderung
wait and see menjelang rilis data tersebut. Konsensus saat ini berada di 3,4% YoY dan 0,4% MoM untuk
headline, serta 2,4% YoY dan 0,2% MoM untuk core. “Selain itu, perkembangan erupsi dan bencana masih menjadi sentimen sektoral yang perlu diperhatikan, khususnya pada saham-saham kesehatan,” katanya.
Baca Juga: PTBA Incar Pendapatan Bisnis Hilirisasi Bisa Sumbang Hingga 20% dalam 3-4 Tahun Herditya pun menyarankan investor mencermati saham
HRUM dengan target harga Rp 985 - Rp 1.015 per saham,
INKP Rp 9.250 - Rp 9.500 per saham, dan
MDKA Rp 2.980 - Rp 3.020 per saham. Sementara, Reza merekomendasikan beli untuk
IMPC,
TINS, dan
KOTA dengan target harga masing-masing di Rp 1.605 – Rp 1.730 per saham, Rp 4.610 – Rp 4.830 per saham, dan Rp 224 – Rp 236 per saham. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News