IHSG Diproyeksi Menguat Hingga Pekan Depan, Analis Sarankan Selektif Pilih Saham



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan hingga pekan depan setelah rebound selama dua hari berturut-turut. Meski demikian, investor masih perlu mencermati sejumlah sentimen, mulai dari perkembangan isu Morgan Stanley Capital International (MSCI), reformasi pasar modal, hingga pergerakan investor asing.

Pada penutupan perdagangan Selasa (20/10/2026), IHSG melonjak 5,65% ke level 5.278,88. Penguatan berlanjut pada Rabu (21/10/2026), dengan IHSG ditutup naik 0,94% ke level 5.328,36.

Namun, pada perdagangan Kamis (22/10/2026), IHSG dibuka melemah 0,78% ke level 5.286,86. Namun hingga pukul 11.08 WIB, IHSG menguat 1,54% di level 5.410,64. 


Baca Juga: Indika Energy (INDY) Gandeng Anak Usaha PLN, Ekspansi Bisnis Energi Terbarukan

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai, penguatan IHSG masih berpeluang berlanjut hingga pekan depan. Meski begitu, rebound tersebut belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Tekanan jual dari investor asing yang masih berlanjut berpotensi membuat pergerakan pasar saham domestik tetap volatil.

"Rebound IHSG masih berpeluang berlanjut hingga pekan depan, tetapi belum mengonfirmasi pembalikan tren," ujar Elandry kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, perkembangan isu MSCI dan langkah reformasi pasar modal akan menjadi perhatian pelaku pasar. Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah dan aliran dana asing atau foreign flow juga perlu dicermati untuk melihat keberlanjutan penguatan IHSG.

Di tengah kondisi tersebut, langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi kepada broker yang terlibat dalam pelanggaran aturan pasar modal terkait perdagangan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dinilai menjadi langkah positif untuk menjaga integritas pasar.

Namun, Elandry menilai efektivitas sanksi tersebut dalam memulihkan kepercayaan investor bergantung pada konsistensi penegakan hukum, transparansi pasar, serta kemampuan regulator mencegah pelanggaran serupa terulang.

Bagi investor, Elandry menyarankan agar lebih selektif dalam memilih saham, terutama dengan memprioritaskan emiten berfundamental kuat dan memiliki valuasi yang wajar. Investor juga dapat melakukan pembelian secara bertahap sembari menjaga porsi kas dan disiplin terhadap batas risiko.

Ia mengingatkan investor agar tidak terburu-buru mengejar penguatan IHSG atau melakukan strategi buy on weakness tanpa konfirmasi yang memadai.

Untuk pilihan saham, Elandry mencermati saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga dapat menjadi pilihan untuk dicermati dengan mempertimbangkan valuasi dan kinerja terkini.

Selain itu, saham sektor energi dan komoditas berpotensi menarik apabila didukung prospek harga komoditas yang positif. Kendati demikian, menurut Elandry, strategi pemilihan saham secara selektif atau stock picking lebih relevan dibandingkan membeli saham di seluruh sektor secara agresif di tengah volatilitas pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News