KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada September 2026 diproyeksi masih akan berada dalam fase
high volatility dengan kecenderungan sideways-bearish, sebelum berpeluang mengalami
technical rebound apabila tekanan dari rebalancing MSCI mulai mereda dan investor kembali melihat fundamental domestik.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang melihat secara teknikal, area 6.400–6.500 sebagai
support penting, sedangkan
resistance berada di sekitar 6.700. "Dengan demikian, untuk September diperkirakan IHSG akan bergerak dalam kisaran 6.400–6.700," kata Alrich kepada Kontan, Senin (31/8/2026).
Baca Juga: Bitcoin Terkoreksi Usai Tembus US$ 81.000, Begini Proyeksinya hingga Akhir 2026 Jika tekanan eksternal dan foreign outflow kembali meningkat, terutama apabila rupiah melemah dan sentimen terhadap Indonesia memburuk, IHSG masih berpotensi menguji 6.300–6.400. Sebaliknya, jika tekanan MSCI berhasil diserap pasar dan asing mulai kembali masuk, IHSG berpeluang menguji kembali area 6.700-an. Secara historis, September memang bukan bulan yang terlalu kuat bagi IHSG. Berdasarkan data historis 20 tahun, rata-rata kinerja IHSG pada September hanya naik sekitar 0,02% dengan probabilitas kenaikan sekitar 45%. Jadi secara musiman, September cenderung menjadi bulan yang kurang atraktif dan cenderung
bearish. Senada dengan hal tersebut, Financial Educator Manager Sucor Sekuritas Hendry Wijaya mengungkapkan berdasarkan data 10 tahun terakhir, rata-rata return IHSG pada September tercatat minus 0,94% dengan probabilitas positif hanya 33%, yang berarti indeks hanya menguat 3–4 kali dalam periode tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai September effect yang juga lazim terjadi di sejumlah bursa global. Hendry menambahkan
support jangka pendek berada di kisaran 6.400–6.500 (area psikologis dan MA20), dengan
resistance di 6.700. Ia memperkirakan IHSG masih mampu bertahan di atas MA20 harian, sementara dari sisi valuasi, forward P/E IHSG tercatat 9,8 kali per akhir Juni, level terendah sejak pandemi dan mendekati level krisis 2008. Dalam skenario bullish, IHSG di 6.700 - 6.900, jika outflow MSCI terserap, terjadi technical rebound dan muncul sinyal dovish Fed. Lalu, base case IHSG berada di level 6.350 - 6.600, yang ditopang konsolidasi dan penurunan yang tertahan valuasi murah. Selanjutnya, pada bearish view IHSG berada di posisi 6.100 - 6.300, jika outflow dari MSCI dan FTSE berlanjut, rupiah tertekan, dan sentimen risk-off global menguat.
Baca Juga: Laba Bersih BEI Naik 178,83% ke Rp 779,97 Miliar per Juni 2026 Hendry juga memaparkan sejumlah faktor yang dinilai dapat menopang pergerakan IHSG sepanjang September, di antaranya, valuasi yang tergolong murah, dengan forward P/E sekitar 9,8 kali yang menarik untuk strategi bottom-fishing. Kemudian, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada Agustus 2026 guna menjaga stabilitas rupiah, memberikan kepastian arah kebijakan moneter. Selanjutnya, rupiah yang membaik, menguat 1,11% dalam dua minggu terakhir ke level Rp17.876 per dolar AS seiring kembalinya capital inflow ke pasar negara berkembang, ekspektasi sikap dovish The Fed menyusul pelemahan data inflasi dan tenaga kerja AS, dengan pasar menanti sinyal lebih lanjut dari rangkaian pertemuan Jackson Hole. Serta kepastian kepemimpinan Bank Indonesia melalui pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI, yang dinilai positif bagi kesinambungan kebijakan moneter.
Rebalancing MSCI Alrich juga menambahkan, perubahan konstituen hasil review Agustus berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus dan efektif mulai 1 September. Dalam review MSCI kali ini, tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke MSCI Global Standard, sementara GOTO dan CPIN mengalami perubahan klasifikasi serta sejumlah saham keluar dari Small Cap.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 0,11% ke 6.525 Senin (31/8), Top Gainers: Saham AKRA, ADRO, AADI Dampak terbesar MSCI bukan hanya pada perdagangan satu hari saat efektif, tetapi pada foreign flow dan persepsi investor terhadap pasar Indonesia. Namun karena informasi rebalancing sudah diumumkan sejak 13 Agustus, sebagian tekanan sebenarnya sudah diantisipasi pasar. "Jadi saya tidak melihat rebalancing ini sebagai faktor yang otomatis membuat IHSG jatuh sepanjang September," tambah Alrich. Adapun Sentimen terhadap governance dan investability Indonesia masih menjadi perhatian investor asing. BEI sendiri menyatakan akan terus berkomunikasi dengan MSCI dan investor global untuk menjaga kepercayaan terhadap pasar Indonesia. Kemudian, pergerakan rupiah, arah suku bunga global/Fed, yield US Treasury dan arus dana asing akan sangat menentukan. Kalau rupiah kembali tertekan dan risk appetite global turun, IHSG akan lebih sulit menguat. Disisi lain, faktor pendukung IHSG berasal dari valuasi sejumlah saham big cap yang sudah mengalami koreksi cukup dalam. Jika earnings tetap terjaga, valuasi yang lebih murah dapat mulai menarik investor domestik maupun asing untuk melakukan akumulasi bertahap. Dus, Alrich melihat September lebih sebagai bulan seleksi saham daripada bulan untuk agresif mengejar indeks.
Rekomendasi Saham Hendry membagikan sejumlah rekomendasi saham pilihan untuk investor, antara lain:
BRMS Target Price : Rp 780 – Rp 840 Cut Loss: Di bawah Rp 650
INET Target Price: Rp 360 – Rp 392 Cut Loss: Di bawah Rp 306
VKTR Target Price: Rp 1.080 Target Price: Di bawah Rp 890
TAPG Target Price: Rp 2.150 Cut Loss: Di bawah Rp 1.870
TINS Target Price: Rp 4.200 – Rp 4350 Cut Loss: Di bawah Rp 3.730
PTRO Target Price: Rp 5.400
Cut Loss: Di bawah Rp 4.530 Adapun Alrich memilih saham BBCA, BMRI, TLKM, ASII dan PGEO di target harga masing-masing Rp6800, Rp4.500, Rp2.800, Rp5.300 dan Rp1.150 per saham.
Baca Juga: Bursa Mineral dan Komoditas Ditargetkan Beroperasi 2027, Ini Respon JFX dan ICDX Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News